Perempuan PKS sebut Jatim paling doyan selingkuh
Merdeka.com - Memperingati Hari Keluarga Nasional, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Jawa Timur menyerukan kepada semua keluarga untuk kembali menumbuhkan komitmen kesetiaan terhadap pasangannya masing-masing. Sebab, keharmonisan rumah tangga di Jawa Timur, sudah pada ‘lampu kuning.’
Dalam aksi keprihatinan yang digelar di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS), Kamis (28/6), aktivis kaum perempuan PKS Jawa Timur, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi Jawa Timur dengan tingkat perceraian nomor dua tertinggi di Indonesia. Selain itu, Jawa Timur juga menempati urutan pertama kasus perselingkuhan.
“Menurut catatan Bidang Perempuan DPW PKS Jatim, tingkat perceraian di Indonesia telah mencapai 10 persen. Dari dua juta pernikahan, terjadi 285.184 perkara perceraian,” terang Ketua Bidang Perempuan DPW PKS Jaw Timur, Dwi Sulistyorini di sela-sela aksi.
Dari angka tersebut, lanjut Dwi, penyebab perceraian karena ketidakharmonisan rumah tangga yang mencapai angka 91.841 kasus. “78.407 Kasus karena tidak ada tanggung jawab suami, 67.891 karena masalah ekonomi, dan 10.029 karena perselingkuhan,” paparnya.
Sementara itu, menurut Dwi, kondisi di Jawa Timur juga tidak jauh berbeda. Dari data yang dikumpulkan oleh pihaknya, pada tahun 2009, angka perceraian mencapai 92.729 kasus. Dari angka tersebut, lima kabupaten/kota di Jawa Timur berada di urutan teratas.
Lima kota/kabupaten yang memiliki tingkat perceraian tertinggi di Jawa Timur di urutan pertama adalah Kabupaten Banyuwangi dengan angka perceraian mencapai 6.784 kasus, disusul Malang (6.716 kasus), Jember (6.054 kasus), Surabaya (5.253 kasus) dan Kabupaten Blitar mencapai 4.416 kasus.
“Yang membuat kita miris adalah, dari angka perceraian di Indonesia karena kasus perselingkuhan, Jawa Timur menempati urutan pertama dengan angka 7.172 kasus, disusul Jabar dengan 3.650 kasus, lalu Jateng dengan 2.503 kasus. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan. Ini jelas bukan prestasi membanggakan,” kelu dia.
Untuk meminimalisir kondisi tersebut, Dwi menjelaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah komprehensif, jika tidak akan akan mengancam kualitas keluarga di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
“Padahal kami sangat yakin, keluarga harmonis yang berkualitas menjadi modal penting untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Keluarga adalah fondasi utama sebuah bangsa. Setia oke, selingkuh no way,” tegas alumnus FISIP Unair ini mengingatkan. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya