Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perajin Bambu Disabilitas Bangkit dari Badai Pandemi Covid-19

Perajin Bambu Disabilitas Bangkit dari Badai Pandemi Covid-19 Herman Meang. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandemi covid-19 menghantam semua sektor perekonomian dunia. Tak sedikit perusahaan hingga industri rumahan gulung tikar karena tak mampu menjalankan roda produksi secara maksimal. Tak terkecuali Herman Meang, seorang penyandang disabilitas perajin bambu di sebuah desa di Sikka, NTT.

Sebelum pandemi datang, halaman rumah Herman yang berada di Desa Nelle Barat, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, tak pernah sepi dari bahan baku yang akan diubahnya menjadi kerajinan bambu. Namun, pandemi memaksanya berhenti untuk menjalankan bisnis yang ditekuninya tersebut.

Setelah vacum mulai Maret hingga September 2020, Herman kembali membuka asa dengan memulai kembali usaha kerajinan mebel miliknya. Dengan bantuan dari Bumdes Teguh Mandiri Kecamatan Nele, Herman membuka usaha berbagai kerajinan bambu.

Herman yang sangat mahir membuat kerajinan bambu, merupakan seorang penyandang disabilitas sejak kecil. Tak seperti sebayanya, sejak usia dini dirinya tak bisa berjalan dengan normal.

Bisnis kerajinan mebel berbahan dasar bambu sudah dilakoninya sejak 1992, usai mengikuti pelatihan dari Dinas Sosial Kabupaten Sikka. Namun, pengerjaan produk bambu itu masih dilakukan secara mandiri di rumahnya dan saat itu hasilnya masih dijual di kalangan keluarga sendiri.

"Saya dulu masih kerja sendiri. Semua produk kerajinan dari bambu saya bisa kerjakan seperti kursi, meja dan lampu dan lain-lainnya. Intinya produk yang saya kerjakan tergantung dari para pemesan. Sudah banyak produk yang saya buat dan telah terjual," katanya.

Keponakannya kerap membantu saat membuat kerajinan mebel. Tapi, ketika sang keponakan sekolah, Herman terpaksa mengerjakannya seorang diri.

"Bila ada pemesanan mebel yang cukup banyak, dalam sebulan pasti saya harus berbagi dengan teman-teman saya, kadang saya kerjakan tiga set, teman saya kerjakan dua set. Ini tergantung pemesanan," katanya.

Ketika membuat satu set meja dan kursi dibutuhkan paling tidak 1- batang bambu. Satu bambu dibeli dari petani lokal seharga Rp15 ribu.

Kini usaha mebel bambu milik Herman Meang tidak hanya diminati pembeli di sekitar Kabupaten Sikka saja, tetapi juga dari luar Sikka, seperti di Flores Timur dan Kupang.

(mdk/ttm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP