Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penutupan lokalisasi Sunan Kuning dan fenomena Ciblek

Penutupan lokalisasi Sunan Kuning dan fenomena Ciblek ilustrasi merdeka.com/shutterstock

Merdeka.com - Rencana penutupan Sunan Kuning, Kota Semarang, pada 1997-2008 berdampak pada turunnya pekerja seks komersil (PSK) di lokalisasi itu ke jalan-jalan. Ratusan wanita malam itu mulai keluyuran di beberapa jalan protokol, khususnya di kawasan Simpang Lima, jantung kota itu.

Puluhan lapak dan warung lesehan yang dikenal dengan warung teh poci pun menjamur. Dengan berkedok menjajakan teh panas, puluhan PSK bersedia melayani adegan-adegan panas dengan para lelaki hidung belang. Mereka disebut ciblek, kependekan dari “cilik betah melek” (ABG yang sering keluar malam).

Rayuan mulai dilancarkan para ciblek begitu teh panas dihidangkan. Selanjutnya, mereka bertransaksi. Setelah harga cocok, sang laki-laki yang ingin menikmati pelayanan lebih akan membawa ciblek ke sebuah hotel yang sudah disepakati.

Koordinator Keamanan Lokalisasi Sunan Kuning Kota Semarang, Suwandi, mengakui ada keterkaitan antara munculnya fenomena sosial teh poci dan ciblek dengan rencana penutupan lokalisasi Sungai Kuning pada tahun 1997-2008 oleh Pemkot Semarang.

“Anak asuh (PSK) saya yang pada keluar malam itu saya akui mereka turun ke jalan ke Kawasan Simpang Lima sebab saat itu ada upaya penutupan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang. Mereka takut kehilangan dan pendapatan mereka saat itu menurun drastis. Mau tidak mau mereka mencari pendapatan dengan cara mendompleng dengan menjadi

pelayan dalam tanda petik di beberapa warung the poci,” ungkap Suwandi.

Rencana penutupan setengah hati itu pun juga menjadikan beberapa penghuni serta mucikari di kawasan Sunan Kuning sering berbuat nakal. Mereka secara sembunyi-sembunyi menerima tamu laki-laki ke kamar yang mereka sewakan dengan kesepakatan bagi hasil. Padahal, di pintu masuk lokalisasi saat itu terpasang 'Lokalisasi Sunan Kuning untuk

Sementara Ditutup'.

Meski diancam ditutup berkali-kali, kegiatan prostitusi di kawasan yang dekat dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang itu tetap berlangsung. Tidak hanya eksis, Sunan Kuning kini bahkan  berkembang secara pesat.

Awal mulanya Sunan Kuning hanya terdiri dari tiga gang di Jalan Sri Kuncoro. Namun kini menjadi lokalisasi itu menjadi 4 gang. Jasa ruangan karaoke yang awalnya hanya ada tiga sampai empat, sekarang sudah ratusan menjadi ruang karaoke yang tersebar di gang-gang tersebut.

“Tidak hanya para tamu masyarakat dari wilayah Kota Semarang dan Jawa Tengah saja yang hadir. Bahkan masyarakat yang hadir saat ini meluas dari beberapa wilayah luar kota seperti dari Jawa Barat dan Jawa Timur juga sering datang untuk menikmati karaoke dan jasa 'anak asuh' yang berada di lokalisasi kami,” ungkap Suwandi.

Kini rencana penertiban lokalisasi mulai diangkat kembali. Dirjen Rehabilitasi dan Kementerian Sosial di Jawa Timur mewacanakan penertiban bisnis esek-esek ini mulai dari Jawa Timur. Jika benar terealisasi, bukan tidak mungkin penertiban juga akan meluas hingga ke Sunan Kuning. Tapi mungkinkah gagal lagi? (mdk/ren)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP