Penjarahan dan bentrokan paling mengerikan saat tragedi '98, semoga tak terulang
Merdeka.com - Peristiwa kerusuhan Mei 1998 menjadi sejarah kelam bangsa ini. Korban mencapai ratusan orang. Sebagian kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Solo, Yogyakarta hingga Medan lumpuh.
Di kota-kota itu muncul kerusuhan massa yang melakukan perusakan, pembakaran, vandalisme, hingga penjarahan. Berikut beberapa tempat kerusuhan Mei 98 dengan jumlah korban banyak:
Mall Citra Klender dibakar massa
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comYogya Plaza yang sekarang dikenal Mall Citra Klender dibakar. 400 Orang dikabarkan tewas pada Mei 1998. Pengunjung Yogya Plaza ada yang mencoba melompat dari atas saat tahu api mulai membakar mal tersebut. Ratusan orang terlalap api hidup-hidup.
Banyak korban yang tidak bisa teridentifikasi karena tubuhnya hangus. Mayoritas korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Ciptomangunkusumo untuk diidentifikasi keluarga.
Mal Yogya di Klender terbakar hebat pada 15 Mei setelah dua hari berturut-turut menjadi target penjarahan warga. Tidak ada yang tahu bagaimana api bisa menyebar ketika masih ada ratusan orang mengambil barang di lantai dua dan tiga.
Pertokoan di Glodok, Jakarta Barat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenurut laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa 13-15 Mei 1998, ternyata kerusuhan Mei itu mempunyai pola umum yang dimulai dengan berkumpulnya massa secara pasif yang terdiri dari massa lokal dan massa pendatang (tak dikenal).
Setelah aksi tembak-tembakkan di Grogol yang menewaskan Mahasiswa Trisakti, keesokan harinya penjarahan besar-besaran terjadi di pertokoan Harco Glodok, Jakarta Barat, 13 Mei 1998. Massa yang tidak dikenal dan tidak diketahui asal mereka berbondong-bondong menyerbu depan Harco Glodok.
Menurut salah satu saksi mata, massa mulai menjarah dan membakar Harco Glodok saat sore hari. Dia juga tidak melihat petugas keamanan saat kejadian. Petugas keamanan seperti TNI, khususnya Marinir disiagakan di depan Plaza Gajah Mada. Massa juga membakar kendaraan yang melintas dan membiarkan kendaraan teronggok di tengah jalan.
Peristiwa Gejayan, Yogyakarta
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPeristiwa Gejayan dikenal juga dengan sebutan Tragedi Yogyakarta, adalah peristiwa bentrokan berdarah pada Jumat 8 Mei 1998 di daerah Gejayan, Yogyakarta, dalam demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Bentrokan ini berlangsung hingga malam hari. Kekerasan aparat menyebabkan ratusan korban luka, dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia.
Peristiwa ini berawal dari unjuk rasa mahasiswa yang dilakukan beberapa Universitas di Yogyakarta pada tanggal 8 Mei 1998.
Pukul 09.00 terjadi demonstrasi di kampus Institut Sains dan Teknologi Akprind serta di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta. Sementara di kampus Universitas Kristen Duta Wacana juga menyelenggarakan aksi keprihatinan yang berlangsung di Atrium UKDW.
Selesai salat Jumat, Pukul 13.00, sekitar 5.000 mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta melakukan demonstrasi di bundaran kampus UGM. Demonstrasi yang berlangsung dengan tertib tersebut menyampaikan pernyataan keprihatinan mahasiswa atas kondisi perekonomian saat itu yang dilanda krisis moneter, penolakan Soeharto sebagai Presiden kembali, memprotes kenaikan harga-harga, dan mendesak untuk dilaksanakannya Reformasi.
Kerusuhan Mei 1998 dimulai pertama kali di Medan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenjelang lengsernya Soeharto dari kursi presiden, Kota Medan dan sekitarnya lebih dulu dilanda kerusuhan. Daerah ini tak terkendali dan lumpuh pada Rabu, 6 Mei 1998. Saat itu, ratusan ruko dilempari dan dirusak. Sejumlah kendaraan dibakar. Sedikitnya 5 orang tewas dan puluhan orang tertembak.
Salah satu pusat kerusuhan ada di kawasan Medan Tembung. Haris (36) menjadi salah satu saksi peristiwa itu. Dia bercerita, 6 Mei 1998 pagi Buana Plaza di Jalan Aksara Medan dijarah.
"Tapi tak semua dijarah, sepertinya hanya satu toko yang di bagian depan. Kalau tak salah toko itu menjual pakaian dan sepatu. Waktu saya ke sana, kaca toko itu sudah berganti dengan tripleks. Polisi dan PHH pun sudah berjaga di sana," jelas Haris.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya