Pengawas dan pengasuh taruna Akpol akan ditambah dua kali lipat
Merdeka.com - Peristiwa penganiayaan yang berujung tewasnya taruna akademi kepolisian (Akpol) Brigdatar Mohammad Adam membuat Mabes Polri akan menambah jumlah personel pengawas dan pengasuh.
"Kita akan tambah personel, tambah personel dua kali lipat untuk mengawasi taruna," tegas Wakapolri Komjen Pol Syafruddin usai memberikan pembinaan dan pengarahan taruna di Ruang Pertemuan Cendrawasih, Gedung Cendekia, Kompleks Akpol di Jalan Sultan Agung, Kota Semarang, Jateng Senin (22/5).
Selain menambah personel pengawas dan pengasuh, Mabes Polri juga akan melakukan perbaikan sarana prasarana serta struktur jabatan.
"Antara lain, sarana prasarana, anggarannya, kemudian tambah personelnya, struktur jabatannya. Akan kita tambahkan semuanya kita lebarkan."
Untuk melakukan perubahan besar-besaran tersebut, pihaknya akan menyusun aturan baru yang akan dituangkan dalam Peraturan Kapolri (Perkap) yang baru.
"Kita akan bikin Perkapnya yang baru," ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Akpol Irjen Pol Anas Yusuf mengaku sudah maksimal mengawasi para taruna Akpol yang mengenyam lembaga pendidikan di bawah naungan Mabes Polri ini. Salah satu caranya dengan memasang ratusan CCTV.
"Kita sudah laksanakan maksimal (dengan memasang) CCTV. (Sebanyak) 126 lebih. Tapi, di kamar kan enggak mungkin, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) juga. Kan ada taruni di sana. Jadi kita sudah ada CCTV," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah menyiagakan beberapa pengawas dan pengasuh perwira di setiap sudut Kompleks Akpol.
"Kemudian ada juga Perwira Pengawas, Pamen pangkatnya Kombes. Ada Kadental Danyon lah istilahnya di tentara, ya di TNI Danyon itu piket juga. Kasatar juga piket juga. Taruna ikut piket juga," terangnya.
Anas mengakui pengawas dan pengasuh kecolongan sehingga peristiwa penganiayaan terjadi dan menewaskan Brigdatar Mohammad Adam. Pihaknya akan mengevaluasi dan melakukan kajian ulang kegiatan dan jadwal di Akpol.
"Tapi seperti yang disampaikan Pak Kapolda kejadian tengah malam dini hari. Jam 11 (malam), seperti perintah saya jam 10.30 (malam) itu sudah harus tidur. Saya beri kesempatan sampai jam 11 bila memang ingin belajar. Itu sudah kita lakukan. Jadi mungkin ada kelengahan dan sebagainya akan kita kaji," ujarnya.
Anas menambahkan, sebagai manusia pengawas dan pengasuh taruna juga mempunyai keterbatasan.
"Sudah jam 00.00 WIB, ya jam setengah 1 (malam) itu pasti sudah lelah dan sebagainya. Walaupun piket, pasti riyip-riyip di ruangan piket saya maklumi tapi itu sudah diluar kemampuan kita," ucapnya.
Seusai apel malam, para taruna harus kembali ke barak masing-masing untuk beristirahat. Namun, mereka mencuri-curi waktu menggelar kegiatan koordinator daerah tanpa sepengetahuan pengasuh dan pengawas taruna.
"Kemudian ya mereka kan ngumpet-ngumpet pasti itu. Tadi yang piket, kita akan telusuri kenapa tidak melihat dan pasti punya keterbatasan," ungkapnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya