Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengakuan bocah korban selamat kecelakaan pesawat di Papua

Pengakuan bocah korban selamat kecelakaan pesawat di Papua Muhammad Jumaidil Jamaluddin. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Muhammad Jumaidil Jamaluddin (12), bocah korban selamat pesawat jatuh di Papua, Sabtu (11/8) lalu kini sudah berkumpul dengan keluarga di Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Bungsu dari tiga bersaudara, serta putra pasangan almarhum Jamaluddin dan Diana ini adalah satu-satunya korban pesawat jatuh di Gunung Menuk, Kabupaten Pegunungan Bintang, Oksibil Papua. Delapan orang lainnya meninggal dunia, termasuk pilot dan co pilot. Jamaluddin ikut menjadi korban meninggal dunia.

Minggu siang kemarin, (23/9), dia menginjakkan kaki di Makassar dengan menumpang pesawat Citilink. Dijemput dari Papua oleh kakak tertuanya, Muhammad Hendra Jamaluddin (23).

Dia mengaku, trauma dengan pesawat. Di tengah penerbangan, pesawat sempat goyang membuatnya ketakutan.

"Keluar keringat dingin karena pesawat goyang. Saya trauma, ingat pesawat jatuh," tutur Jumaidil saat ditemui di rumah tantenya, Hajjah Bollo, Senin (24/9).

Sebelum pulang ke Makassar, Jumaidil dirawat di RS Bhayangkara selama dua minggu karena cidera dalam di leher dan perut, serta retak tulang tangan kanan. Kemudian menjalani rawat jalan dan selanjutnya menuju Makassar. Diana dan Nuramalia (13) kakaknya akan menyusul ke Makassar setelah tuntas pengurusan surat pindah sekolah.

Saat dirawat di RS Bhayangkara, Jumaidil sempat ditawari untuk pembiayaan pendidikan di sekolah pilot namun di menolak.

"Ada orang dari Jakarta tawari sekolah pilot tapi saya tolak, takut," ujar Jumaidil.

Saat ditanya cita-citanya, Jumaidil mengaku bercita-cita jadi tentara. "Bukan TNI AU tapi Angkatan Darat karena ada parasutnya," tutur polos bocah ini.

Jumaidil berhasil lolos dari maut lantaran saat kejadian dia ditendang oleh bapaknya hingga keluar dari pesawat, meski dalam posisi terjungkal.

Penumpang lain sudah kenakan seat belt sementara dia dan bapaknya memilih tidak gunakan seat belt yang tersedia. Jumaidil tidak tahu apa maksud bapaknya tidak perbolehkan kenakan seat belt saat ada peringatan ada masalah pada pesawat.

Saat sudah tidak ada keseimbangan, pesawat jatuh posisi melintang, bukan menukik, oleh bapaknya dia diminta lompat namun merasa takut.

"Tiba-tiba bapak tendang saya dan terjatuh ke jurang menyusul bapak. Sebelum tiba di darat, saya tangkap kayu rotan terus turun. Kalau bapak, mungkin jatuh di pohon tapi tidak jauh dari saya," ujarnya.

Akibat jatuh itu, Jumaidil tidak mengalami luka berdarah, namun luka dalam bagian perut hingga terpaksa mendapat 20 jahitan, leher cidera dan tulang tangan kanan retak.

"Kalau bapak, mungkin juga luka dalam karena darah banyak keluar dari mulutnya. Sempat bicara tapi sorenya sudah tidak terdengar lagi. Bapak sudah meninggal dunia. Pagi harinya sudah ada warga, tentara, polisi datang menolong," kata Jumaidil.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP