Pemikiran radikal dinilai bertentangan dengan ajaran agama manapun
Merdeka.com - Kelompok radikal melakukan teror dengan menjadikan aparat sebagai target. Mereka juga menolak Pancasila sebagai dasar negara untuk mempersatukan keberagaman.
"Kalau pemikiran yang jahat (anggap pemerintah thogut) maka susah menjadi warga negara yang baik. Pemikiran seperti itu tentu bertentangan dengan ajaran agama manapun," ujar Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Siti Musdah Mulia dalam keterangannya, Rabu (9/8).
Menurutnya, warga negara harus menanamkan memiliki pemikiran positif membangun bangsa. Masyarakat harus bisa melanjutkan apa yang sudah diperjuangkan oleh para Founding Fathers (pendiri bangsa) untuk kemajuan bersama.
"Tentunya kita harus bisa bergandeng satu sama lain untuk sama-sama bekerja dengan melihat keberagaman, pluralisme yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki keberagaman budaya yang tentunya sangat berarti bagi perdamaian," tuturnya.
Dia menuturkan membela negara dalam konteks kehidupan sehari-hari itu bagaimana menjaga perdamaian, sehingga pemerintah dapat menjalankan tugasnya. Momen hari kemerdekaan harus dimaknai sebagai kemerdekaan dari pemikiran picik dan destruktif.
"Karena dengan berpikir positif, kreatif dan konstruktif berarti kita memiliki pemikiran yang dapat melihat ke depan untuk kemajuan bangsa," kata Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah itu.
Sebagai warga negara, lanjutnya, kita tidak boleh membiarkan negara terpuruk karena semakin masifnya penyebaran ideologi radika. "Kita juga tidak boleh membiarkan pemerintah bekerja sendiri. Sebagai warga negara kita wajib hukumnya untuk menjaga, membela dan membangun negara," tandasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya