Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pemerintah minta petani lakukan irigasi pompa dari BBM ke listrik

Pemerintah minta petani lakukan irigasi pompa dari BBM ke listrik petani panen padi. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menggenjot produktivitas padi guna menuju swasembada pangan usungan Presiden Joko Widodo. Salah satunya dengan melakukan efisiensi usaha tani.

Efisiensi usaha tani sendiri ditentukan oleh banyak faktor, slah satunya mengganti biaya pengairan dengan sumber energi pompa yang berasal dari bahan bakar minyak menjadi listrik. Hal itu diyakini mampu menekan biaya pengairan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Sekditjen PSP) Kementerian Pertanian Abdul Majid mengungkapkan, pemerintah mempersilakan para petani yang ingin melakukan efisinesi pengairan dengan pompa.

"Silakan petani melalui dinasnya mengusulkan (efisiensi pengairan pompa) ke Kementan," ujar Abdul dalam keterangan tertulis, Rabu (26/10).

Salah satu contoh yang sudah melakukan efisiensi pengairan pompa, lanjut Abdul, yakni Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Subur Makmur yang terletak di Desa Klotok, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim). Mereka mampu meningkatkan produktivitas padi di desa tersebut meningkat dari 2,5 ton menjadi 10-12 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

"Pola tanam di Desa Klotok sebelum adanya HIPPA adalah padi, palawija yang pada 1979 dan 1980-an produksi padinya masih sangat rendah, hanya berkisar 2,5 ton sampai 3,5 ton per ha. Ini karena pengairannya masih mengandalkan tadah hujan," tuturnya.

Abdul menambahkan, air baku yang dimanfaatkan pada waktu itu berasal dari jaringan irigasi Beron yang ada di Kecamatan Rengel. "Sumber air jaringan irigasi Beron sangat terbatas dan tidak mampu untuk mengairi seluruh wilayah layanannya," ungkapnya.

Sementara itu, pembina HIPPA Subur Makmur, Purwanto menambahkan, awalnya HIPPA Subur Makmur pada 1991 mendapatkan bantuan berupa pompa air, rumah pompa, dan modal kerja sebesar Rp 30 juta yang digunakan untuk operasional termasuk bahan bakar. Sayangnya pompa air yang berada dalam tanah, tepian Sungai Bengawan Solo, sering terendam saat air sedang tinggi, sehingga membuat pompa tersebut rusak.

"Akhirnya timbul ide untuk mencari utang dalam bentuk sapi dengan suku bunga, kalau Rp 1 juta dalam satu bulan, maka bayarnya Rp 1,5 juta. Setelah dijalani, dalam waktu satu kali musim panen utang terlunasi. Bahkan masih menyisakan dana untuk operasional tanam berikutnya," jelas dia. (mdk/rhm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP