Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pembunuh Sesungguhnya Bernama Virus DBD

Pembunuh Sesungguhnya Bernama Virus DBD Fogging. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengancam Indonesia. Keganasan DBD melebihi virus corona asal Wuhan, China yang juga tengah mendunia saat ini. Berdasarkan data Kemenkes, sejak Januari hingga Maret 2020 sudah ada 104 orang meninggal dunia. Angka ini jauh lebih besar dari korban meninggal virus corona yang tercatat hanya satu orang di Indonesia.

Penyebaran virus DBD sangat cepat. Dalam rentang tiga bulan saja penderita DBD di Indonesia sudah mencapai 17.820 orang. Sejumlah daerah disasar DBD tanpa pandang bulu.

Jumlah penderita terbanyak berada di Lampung yakni 3.431 orang. Disusul Nusa Tenggara Timur sebanyak 2.732 orang, dan Jawa Timur 1.761 orang.

Meski berada di peringkat kedua, NTT mencatat jumlah kematian terbanyak dibandingkan provinsi lain yakni mencapai 32 orang. Sementara Jawa Barat 15 orang, Jawa Timur 13 orang dan Lampung 11 orang.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengakui, DBD jauh lebih mematikan daripada virus lain. Sebagai negara tropis, Indonesia memang rawan penyebaran DBD. Ditambah lagi saat ini sejumlah daerah sedang musim hujan.

"Yang paling mengancam jiwa saat ini adalah DBD," katanya, Senin (9/3).

Alat Hematologi Analyzer Rusak

analyzer rusak rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Di tengah korban jiwa akibat DBD meningkat, pemerintah kurang cepat mengambil keputusan. Buktinya, Hematologi Analyzer yang digunakan untuk mengukur sampel darah pasien terjangkit DBD di daerah mengalami kerusakan. Akibatnya analisis kesehatan tak bisa mengetahui tinggi rendahnya trombosit pasien sehingga lambat mengambil tindakan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes, Saraswati mengakui ketersediaan Hematologi Analyzer di daerah rendah. Misalnya di Nusa Tenggara Timur. Hematologi Analyzer berkapasitas 80 sampel darah pasien dipaksa menguji lebih dari 300 sampel.

"Akibatnya apa yang mungkin dilihat trombositnya harusnya sudah drop, sudah harus segera dilakukan penanganan transfusi misalnya jadi kelihatannya ternyata belum. Akhirnya terlambat dalam memutuskan tindakan penanganan karena alat diagnostiknya ada kelemahan," kata dia.

Baru pada Senin (9/3), Menkes Terawan turun tangan membawa lima alat Hematologi Analyzer ke NTT. Terawan juga memboyong 30 dokter spesialis untuk menangani cepat pasien DBD.

RS Belum Siap Tampung Pasien DBD

siap tampung pasien dbd rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Tak hanya minim alat Hematologi Analyzer, rumah sakit di daerah belum siap menampung pasien DBD. Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur misalnya ruang rawat inap RSUD TC Hiller penuh sehingga tak bisa menampung banyak pasien.

Saking padatnya, dua pasien terpaksa harus menggunakan satu tempat tidur. Pasien lain terpaksa dirawat di lantai rumah sakit hanya beralaskan tikar.

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, mengakui rumah sakit di Sikka sempat kewalahan menangani pasien DBD. Namun, masalah tersebut diklaim sudah teratasi.

"Mungkin sempat di Sikka di mana pasien sempat diinfus belum di ruang rawat tapi kemudian dengan berjejaring dengan rumah sakit swasta dan membuat sebagian ruangan menjadi ruang rawat darurat, sudah teratasi," jelasnya.

DBD Merebak Akibat Lingkungan Kurang Bersih

akibat lingkungan kurang bersih rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegepti dan Aedes albopictus betina yang membawa virus dengue. Nyamuk Aedes aegepti berkembang biak di tempat yang gelap, kotor dan lembap.

Misalnya di tumpukan sampah yang terdapat sampah kaleng, ember, atau botol yang terisi genangan air. Bak mandi yang jarang dikuras dan dibersihkan juga menjadi penyebab nyamuk Aedes aegepti berkembang.

Siti Nadia Tarmizi mengatakan menjaga kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah DBD. Masyarakat harus memastikan tidak ada tempat bagi nyamuk Aedes aegepti bertelur.

"Karena nyamuk aedes saat ini bukan di dalam rumah tapi juga sudah di luar rumah," ujarnya.

Ia juga menyarankan warga untuk memelihara ikan pemakan jentik nyamuk dan menanam pohon pengusir nyamuk. Ikan yang dimaksud adalah Cupang, Cere, Ikan Nila Merah, Ikan Kepala Timah, Ikan Mas dan Ikan Centul. Sementara pohon pengusir nyamuk adalah Zodia, Serai, Selasih, Suren, Marigold, Lavender, Kecombrang, Rosemary dan Geranium.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP