Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pembahasan Islam dan tradisi masyarakat Sunda ala Dedi Mulyadi

Pembahasan Islam dan tradisi masyarakat Sunda ala Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menghadiri acara diskusi yang digelar oleh MUI Kabupaten Garut, di Kantor Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (14/4). Pada kesempatan tersebut, Dedi membahas tentang ajaran Islam secara substansi dengan tradisi masyarakat Sunda.

"Semuanya itu pada zaman terdahulu di tanah Sunda, sudah diajarkan pondasi ajaran Islam, sehingga saat Islam didakwahkan oleh para Wali di tanah Sunda, sudah tinggal memasukan sarungnya saja. Kalau pun terdapat candi di tatar Sunda seperti Candi Cangkuang di Garut dan Candi Batujaya di Karawang, itu pendatang, bukan asli Sunda tapi dari Campa atau Kamboja," kata Dedi.

Terkait kultur, Dedi mencontohkan budaya di pesantren. Menurutnya, seorang santri atau murid biasanya sudah dapat memperoleh ilmu. Meskipun, faktanya, santri tersebut tidak mengaji secara khusus. Hal ini membuktikan bahwa ilmu dapat diperoleh melalui pewarisan tingkah laku dan ucapan guru yang setiap hari diikuti oleh santri tersebut.

"Saya itu awalnya kurang percaya kalau ada kiai yang bisa mentransfer ilmu tanpa melalui proes belajar, tetapi di pesantren itu ternyata ada," tambahnya.

Hubungan antar kultur Sunda dan Islam secara religi juga sempat dijelaskan oleh Bupati Purwakarta tersebut. Cara orang Sunda yang membangun rumah biasanya menurut dia, selalu diserta dengan jendela berukuran besar dan disamping jendela tersebut selalu ada ayam pelung yang setiap "janari" (waktu sepertiga malam) berkokok membangunkan penghuni rumah.

"Jendela dibuat besar-besar agar cahaya matahari mudah masuk, sehingga rumah menjadi sehat. Ini kan simbol kepasrahan pada Qadha dan Qadar yang dimiliki oleh orang Sunda. Di dekat kamar itu ada ayam pelung, berfungsi untuk membangunkan penghuni rumah sebelum waktu shubuh tiba," ujarnya lagi.

Dedi menutup paparannya dengan penegasan bahwa Islam yang berbasis kebudayaan jika diaplikasikan secara menyeluruh, akan memberikan kedamaian dan kerukunan di setiap wilayah. Misalnya, nilai kebudayaan Sunda misalnya Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh sama sekali tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Melainkan menurut dia,

kedua nilai itu justru saling menguatkan.

"Sopan santun, tutur bahasa, tingkah laku dan perbuatan itu semua diajarkan,” pungkasnya. (mdk/ibs)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP