Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pascabom Sarinah, kelompok An Nadzir sering disambangi intel

Pascabom Sarinah, kelompok An Nadzir sering disambangi intel Ustaz Lukman A Bakti dari kelompok An Nadzir. ©2016 merdeka.com/mappesona

Merdeka.com - Pascateror bom di Jl HM Thamrin, Jakarta beberapa waktu lalu, komunitas An Nadzir yang berdiam di Kampung Batua, Kelurahan Romang Lompoa, Kecamatan Bonto Marannu, Kabupaten Gowa dengan jarak tempuh dari batas Kota Makassar banyak didatangi intel dari TNI dan Polri. Sebelumnya, komunitas yang hidup membuat areal pemukiman sendiri di Kabupaten Gowa ini kerap dihujani tudingan dugaan kelompok teror dan aliran sesat.

Demikian diungkap Ustaz Lukman A Bakti, salah seorang ulama sekaligus juru bicara kelompok An Nadzir yang mendiami dan mengelola lahan seluas 24 hektare itu usai peletakan batu pertama pembangunan Mesjid An Nadzir yang dihadiri Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Senin (1/2).

"Pasca peristiwa teror baru-baru ini di Jakarta, kami banyak didatangi intel dari TNI dan Polri. Setelah intens diskusi dan kajian, keluar kesimpulan jika An Nadzir terlepas dari dugaan teroris," tandas Ustaz Lukman A Bakti seraya menambahkan setelah isu teroris selesai, menyusul lagi tudingan aliran sesat.

Sejak awal munculnya An Nadzir tahun 1998 lalu yang kemudian eksis sebagai komunitas mandiri sejak tahun 2007 lalu, tidak terlepas dari isu teroris dan stigma negatif lainnya karena dari gaya berpakaian saja seperti jubah, bertopi khas dan bersorban, An Nadzir kemudian dituding kelompok ekstrem. Ustadz Lukman A Bakti mengatakan, tudingan itu sungguh tidak nyaman.

Tapi baginya, wajar jika penilaian itu muncul karena masyarakat di luar sana tidak paham dan tidak mengenal kelompok An Nadzir secara baik.

ustaz lukman a bakti dari kelompok an nadzir

Ustaz Lukman A Bakti dari kelompok An Nadzir ©2016 merdeka.com/mappesona

Perlu diketahui, kata Lukman, bersorban, jubah, rambut dicat itu bukan keharusan bagi kelompok An Nadzir. Mereka yang mengikuti yang sebenarnya adalah gaya Rasulullah itu dilaksanakan bagi yang yakin saja, tidak ada keharusan.

"Kami merasa apa kami lakukan bukan atau tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah sunah jadi tidak tepat jika dikatakan An Nadzir sesat," tuturnya.

Dengan kunjungan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo di tengah-tengah kelompok An Nadzir diawali peletakan batu pertama pembangunan mesjid, menurut Lukman, itu membuktikan bahwa An Nadzir bukanlah kelompok yang disesaki isu-isu miring, stigma-stigma negatif. Sehingga warga An Nadzir yang berjumlah 130 Kepala Keluarga (KK) bisa lega karena kedatangan Gubernur Sulsel merupakan pembuktian kesekian kalinya bahwa An Nadzir bukan kelompok yang terjerat masalah.

Diakui, kehidupan kelompoknya memang rada eksklusif karena membuat pemukiman sendiri, bercocok tanah, beternak, menerapkan home schooling bagi anak-anak tetapi bukan berarti jadi asing di tengah warga setempat. Sejak awal, warga An Nadzir berbaur dengan masyarakat, saling membantu jika ada kesulitan ditemukan misalnya saat musim tanam atau musim panen tiba.

Yang paling menonjol perbedaan kelompok An Nadzir di tengah warga setempat selain gaya berpakaian, adalah penentuan hari lebaran.

"Kita biasanya lebih dulu sehari dari yang ditetapkan pemerintah. Tetapi itu kita lakukan karena ada hitungannya, ada metodologinya dan itu sudah diakui Thomas Djamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang menurutnya, metodologi hisab An Nadzir sangat ilmiah, bisa dikaji untuk mempersatukan umat Islam di Indonesia.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP