Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pasca-penutupan Gang Dolly, masih bisakah warga hidup?

Pasca-penutupan Gang Dolly, masih bisakah warga hidup? Gang Dolly. ©REUTERS/Sigit Pamungkas

Merdeka.com - Kembali hidup susah terbayang di depan mata para penghuni Gang Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Sebab pada 19 Juni mendatang, Pemkot Surabaya berencana menutup lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Harus diakui, tempat lokalisasi, tidak hanya menghidupi mucikari dan pekerja seks komersil (PSK)-nya, melainkan juga warga sekitar yang memanfaatkan geliat bisnis esek-esek. Terlebih lagi, di Gang Dolly dan Jarak adalah lokalisasi yang sudah menyatu dengan perkampungan sejak bertahun-tahun lamanya.

Lantas, bagaimana para penghuni Dolly dan Jarak, maupun warga sekitar hidup pasca-penutupan? Mereka tak perlu khawatir. Sebab, Pemkot Surabaya, berjanji tidak akan membiarkan warganya kelaparan pasca-penutupan.

Mereka, akan mendapat pesangon Rp 3 juta per kepala hingga bisa mandiri secara ekonomi. Bahkan, Pemprov Jawa Timur juga mendukung upaya penutupan dengan ikut memberi Rp 5 juta per kepala.

Tak hanya itu, seperti halnya dengan empat lokalisasi yang sudah ditutup, yaitu Tambak Asri, Bangun Rejo, Sememi dan Klakah Rejo, Pemkot Surabaya juga membangun sentra perdagangan yang bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk mengais rizki. Bahkan, mereka juga dilatih keterampilannya agar bisa berdikari sendiri.

"Itu adalah upaya Pemkot, sebagai solusi agar warga tetap bisa mencari rezeki meski Gang Dolly dan Jarak ditutup. Kita tidak akan membiarkan penutupan tanpa solusi. Kita juga tetap memberikan pesangon sampai mereka benar-benar bisa mandiri," tandas Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser kepada merdeka.com, Selasa lalu (20/5).

(mdk/mtf)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP