Parkir di stasiun mahal, bikin penumpang KRL menjerit
Merdeka.com - PT KAI Commuter Jabodetabek melakukan sejumlah pembenahan di area stasiun. Kini PKL tak bisa lagi masuk peron. Selain itu penerapan e-ticketing pun membuat penumpang lebih tertib.
Sejumlah lahan di sekitar stasiun juga disulap jadi tempat parkir motor resmi yang dikelola Res Parking. Parkir ini dijamin asuransi. Namun sayangnya biaya parkir di menjadi mahal dan terus naik.
Di Stasiun Bojong Gede, sejumlah pelanggan mengeluhkan mahalnya tarif parkir motor. Mereka adalah pekerja yang menitipkan motor di stasiun dan berangkat naik kereta.
"Saya parkir menginap kena Rp 18.000. Mahal sekali. Dulu maksimal Rp 12.000," kata Adi, warga Bojong Gede, kepada merdeka.com, Minggu (3/8)
Tarif di Stasiun Bojong Gede terus naik. Awal dibuka beberapa bulan lalu Rp 3.000 per hari. Lalu naik beberapa kali hingga Rp 6.000. Lewat jam 00.00 WIB, dikenai Rp 12.000.
Kini Res Parking menggunakan e-ticketing. Kembali ada penyesuaian tarif. 24 jam plus tiga jam, kena tambah lagi Rp 6.000 sehingga total Rp 18.000.
"Mahal sekali. Harga tiket KRL Bojong Gede ke Tebet saja cuma Rp 3500. Masak parkirnya lima kali lipat," tambah Adi.
Husni, penumpang KRL lain menuturkan tak pernah lagi parkir di tempat resmi. Setelah tarif parkir per hari naik Rp 6.000, dia pindah ke parkiran yang dikelola warga.
"Pada pindah ke tempat parkir yang dikelola warga. Murah cuma Rp 3.000. Yang tempat parkir resmi sekarang sepi. Mahal sih. Padahal dulu rame," kata Husni.
Salah seorang petugas Res Parking menuturkan memang ada penyesuaian tarif parkir. Tapi hal itu karena kini parkir menggunakan kamera cctv sehingga lebih aman. Keluar masuk parkir pun dengan e-ticketing.
Dia membenarkan memang banyak pelanggan yang pindah ke area parkir warga.
"Banyak yang mengeluh soal tarif. Kita mau apa lagi. Sudah kebijakan perusahaan kalau itu. Tapi kalau parkir di sini kan lebih aman. Kita jaga 24 jam," katanya.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya