Pantang Menyerah Sadikin Pard, Pelukis Difabel di Tengah Keterbatasan
Merdeka.com - Ada pemandangan tak biasa di Kantor PDI Perjuangan DPD DIY pada Sabtu (17/4). Tepat di depan patung Soekarno yang berada di halaman kantor PDI Perjuangan DPD DIY ada seorang pelukis yang tengah menggoreskan cat dengan kuas yang diapit di antara sela-sela ibu jari dan telunjuk kakinya.
Sebuah lukisan bergaya impresionis dengan gambar dua ekor ayam jago sedang bertarung nampak dikerjakan oleh Sadikin Pard. Sadikin adalah seorang pelukis difabel tanpa kedua tangan.
Sadikin yang sore itu bertelanjang dada dan memakai udeng atau penutup kepala khas Bali nampak piawai memainkan kuas yang berada diapitan jari kakinya. Tak hanya memakai kuas, jemari kaki Sadikin sesekali juga dipakai untuk menorehkan cat di atas kanvas. Bahkan Sadikin pun sesekali memakai tubuhnya sebagai pengganti kuas.
"Lukisan ini saya namai Adu Ayam. Kenapa saya menggambar ayam? Karena image sesuatu yang diadu di masyarakat adalah ayam. Jadi ini gambaran situasi Indonesia saat ini dimana masih banyak yang adu mengadu masyarakat satu sama lainnya," kata Sadikin.
©2021 Merdeka.com/Purnomo Edi
Pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini menjelaskan selain membaca kondisi masyarakat, ide membuat lukisan adu ayam juga merupakan sebuah simbol. Simbol agar masyarakat selalu semangat dalam memperjuangkan apa yang menjadi tujuannya.
"Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus diperjuangkan dengan jerih payah dan semangat yang luar biasa. Karena tanpa perjuangan tak akan ada kesuksesan yang kita dapatkan," tegas Sadikin.
Sadikin menceritakan jika sudah sejak kecil dirinya menggemari aktivitas melukis. Sadikin pertama kali belajar melukis pada saat sekolah TK di Solo.
Karena kecintaannya terhadap seni lukis, Sadikin menyebut keterbatasan yang dipunyainya tak menjadi penghalang. Sadikin menuturkan tanpa kedua tangan, dirinya tetap melukis dengan dua kaki yang diberikan oleh Tuhan.
"Saya memang tidak bisa melukis pakai tangan seperti orang kebanyakan. Tapi bagi saya ini bukan halangan. Keterbatasan fisik bukan halangan bagi saya. Saya memang tidak punya tangan tapi sehari-hari saya beraktivitas dengan kaki saya termasuk melukis ini," ungkap Sadikin.
Sadikin menuturkan awal mula melukis dirinya lebih banyak mengusung aliran naturalis. Hanya saja belakang ini dirinya lebih memilih aliran impresionis untuk berkarya di atas kanvas.
Sadikin menambahkan melalui seni lukis dirinya ingin memotivasi pada difabel lainnya agar tak putus semangat dan minder. Keterbatasan fisik, lanjut Sadikin bukanlah kekurangan tetapi sebuah kelebihan yang harus dimaksimalkan.
Sadikin menilai sesuatu yang dianggap kekurangan, bukanlah menjadi halangan atau penghambat untuk berkarya. Ada sejumlah potensi yang bisa dimaksimalkan di tengah kekurangan.
"Untuk kaum difabel jangan patah semangat walaupun ada kekurangan, kekurangan itu bukan halangan atau rintangan tapi jadi suatu kelebihan. Seperti yang saya lakukan ini pakai tubuh adalah suatu kelebihan meski realisasinya saya tidak punya tangan. Semoga selalu semangat dan jangan pernah dibelaskasihani orang lain, berikanlah kasihan kepada orang-orang," ucap Sadikin.
Terpisah, Sekretaris DPD PDIP DIY Totok Hedi Santosa menjelaskan ada 11 perupa Yogyakarta yang terlibat melukis bersama di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY. Totok menuturkan para perupa ini dalam waktu yang terbatas, sekitar dua jam, diminta menuangkan gagasannya melalui melukis on the spot dalam acara bertajuk 'Memotret Yogyakarta Kini'.
"Selain ngabuburit, ini merupakan pra event pameran seni rupa AKARA ini diikuti oleh Januri, Bambang Heras, Tjokorda, Wilman S, Sadikin, Rismanto, Suharmanto, Laksmi, Dyan Anggraini, dan Hadi Soesanto," ujar Totok.
Totok mengatakan acara ini menjadi salah satu bagian dari kegiatan menuju ke pameran lukisan AKARA yang akan digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY pada 5 sampai 30 Juni 2021. Pameran lukisan, kata Totok, menjadi bagian dalam rangka memperingati bulan Bung Karno.
Dalam pameran itu akan ada 78 perupa Yogyakarta yang terlibat dalam perhelatan seni ini. Sederet nama seniman kondang juga akan ikut memamerkan karyanya di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, antara lain, Butet Kartaredjasa, Ong Hari Wahyu, Bambang Herras, Budi Ubrux, Bunga Jeruk, Agung Pekik, Laksmi Shitaresmi, Nasirun, Ugo Untoro, dan Putu Sutawijaya.
"Pameran lukisan AKARA sendiri digelar untuk memperingati bulan Soekarno. Karema bulan Juni menjadi salah satu bulan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia," pungkas Totok.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya