Panglima TNI: Anggota saya tidak melawan saat disergap polisi
Merdeka.com - Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan kronologi insiden penembakan yang berujung bentrok yang terjadi di Di Kecamatan Lubuk Linggau Utara, Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Jenderal Gatot mengatakan bahwa kejadian ini berawal ketika Kapten Chb Edi sebagai Komandan Tim dan Serda Deden (anggota Den Intel Kodam III/Siliwangi) melakukan pengejaran terhadap komplotan mobil milik Puskopad Kodam III/Siliwangi.
"Kapten Edi dan Serda Denden bersama-sama dalam 1 tim dan terdapat delapan orang lainnya yang sedang melaksanakan tugas satuan dengan di lengkapi surat perintah, dalam rangka pengejaran terhadap pelaku pencurian mobil," kata Jenderal Gatot saat jumpa pers di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (15/11).
Namun, kata Jenderal Gatot, saat melakukan pengintaian pelaku di Lubuk Linggau, tim Denintel Kodam III/Siliwangi disergap oleh Tim Buser Muara Enim, dan saat itulah diperintahkan untuk keluar.
"Selanjutnya dalam pengembangan penangkapan pelaku, Dedi, telah melakukan pengamatan sasaran di wilayah Lubuklinggau, telah di dapati lima unit mobil di kepung dan disergap oleh Tim Buser Muara Enin, dan saat itulah diperintahkan untuk keluar," jelasnya.
Saat diperintahkan keluar, menurutnya, Kapten Edi dan Serda Deden langsung ditembak oleh tim Buser Muara Enin karena kedapatan membawa senjata di pinggang. Peristiwa itu terjadi di depan Alfamart Jalan Lintas Timur Sumatera, Desa Megang, sekitar pukul 23.30 WIB. Meski demikian, lanjut Jenderal Gatot, anak buahnya itu tidak melakukan perlawanan karena memang tidak ada masalah dengan pihak kepolisian setempat.
"Yang pertama keluar adalah Kapten Edi kemudian dilanjutkan dengan Serda Dede, lalu diperintahkan angkat tangan. Pada saat angkat tangan tidak membawa senjata di tangan tetapi di pinggang, lalu di tembak di perut dan pahanya. Itulah terjadi aksi penembakan dan tidak ada perlawanan, karena memang mereka tidak ada masalah dengan kepolisian yang bertugas dalam mencari mobil curian," tandasnya.
Gatot juga menambahkan insiden tersebut tidak hanya terjadi satu kali, kejadian kedua di RS Umum Daerah Siti Aisyah sekitar pukul 00.00 WIB. Jelas Gatot, anggota Denintel Kodam III/Siliwangi yang selamat datang ke RS untuk menjenguk pimpinannya, saat itu pula anggota polisi mengeluarkan senjata api dan terjadi perebutan senjata. Saat rebutan terjadi, senjata tersebut meletus ke arah bawah.
"Kejadian kedua di tempat berbeda yaitu di RS Umum Daerah Siti Aisyah sekitar pukul 00.00 WIB, anggota Denintel Kodam III/Siliwangi yang tidak kena tembak datang ke RSUD tersebut untuk melihat pimpinan dan rekan-rekannya yang menjadi korban penembakan. Namun saat itu ada anggota Polres bersenjata dan tiba-tiba kedua anggota Polres tersebut mengeluarkan senjata dan diamankan oleh anggota Denintel, sehingga terjadi perebutan senjata. Pada saat itulah meletus ke arah bawah," pungkas Jenderal Gatot.
Meski demikian, Jenderal Gatot menegaskan bahwa anggotanya tidak melakukan perlawanan karena tidak memiliki masalah apapun dengan aparat kepolisian setempat. Selain itu, menurutnya, anggotanya tersebut juga telah mematuhi dan mengikuti semua perintah dari anggota kepolisian.
"Perlu ditegaskan bahwa anggota TNI tidak melakukan perlawanan sama sekali saat disergap dan di lucuti senjatanya, karena memang sedang melaksanakan tugas dan tidak memiliki latar belakang masalah dengan pihak kepolisian, sehingga semua yang diperintahkan anggota kepolisian dipatuhi dan di ikuti, angkat tangan kemudian keluar, mereka lakukan," tutupnya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya