Pangkas pohon bambu, belasan siswi SMPN 1 di Karangasem kesurupan
Merdeka.com - Kendati sempat ditutup-tutupi pihak sekolah, akhirnya terkuak juga. Hal ini setelah seluruh orang tua siswa di SMPN 1 Amlapura, Karangasem di Bali berdatangan ke sekolah. Kedatangan para orang tua murid ini ternyata pihak sekolah menggelar upacara pecaruan (pembersihan) di lingkungan sekolah.
Itu dilakukan pihak sekolah karena sejak seminggu lalu sejumlah siswi setiap hari kesurupan. Hal itu diduga lantaran ditebangnya rimbunan pohon bambu di luar areal sekolah yang menjorok ke dalam pagar sekolah.
Informasi yang didapat, pertama kali kesurupan dimulai dari salah seorang siswi kelas IX C yang ber
nama Nyoman Sariani. "Awalnya Sariani marah-marah terus nangis tanpa sebab. Herannya saat nangis, siswi lainnya juga ikut nangis dan teriak," ujar salah seorang guru di SMPN 1 Amlapura, Jumat (13/3) di Karangasem.
Katanya peristiwa tersebut terjadi sejak seminggu lalu dan hampir setiap hari Sariani dan belasan siswi lainnya kesurupan. Anehnya mereka yang kesurupan seluruhnya wanita dan orangnya itu-itu saja. Karena takut hal ini terus terjadi, pihak sekolah menggelar pecaruan.
Namun saat akan dilangsungkan upacara pembersihan atau pecaruan, Sariani CS kembali kesurupan. Dalam perkataannya menyebut bahwa mereka semua ini adalah penghuni pohon bambu sebelah sekolah, bila ingin anak-anak ini tidak ganggu, sekolah harus menggelar pecaruan ageng Rsi Gana (Pembersihan besar/mewah).
Percaya atau tidak, karena ingin proses belajar mengajar dilancarkan. Pihak sekolah berencana akan menggelar upacara yang diminta pada Mei mendatang.
"Sesuai dengan petunjuk siswi yang kesurupan, kami akan laksanakan. Tapi jika tetap terjadi, entah apa lagi saya tidak tau. Rencananya Mei akan kami gelar upacara tersebut," ungkap Nyoman Sutama, Kepala Sekolah SMPN 1 Amlapura.
Percaya atau tidak, para siswi ini diganggu roh halus penghuni pohon bambu yang ditebang pihak sekolah. Padahal penebangan dan pembersihan pohon bambu di luar sekolah yang menjorok ke dalam ini terjadi pada tahun lalu.
"Mestinya kalau mau penghuninya marah, ya tahun lalu dung marahnya. Ini malah baru sekarang terjadi marah-marahnya," bisik salah seorang guru yang yakin persoalan ini hanya permainan anak-anak.
"Tapi saya lebih percaya pada Karma. Apa yang baik diperbuat akan baik pula yang didapat, begitu juga sebaliknya," ungkap guru ini. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya