Orang tua korban meminta kekerasan di STIP ditinggalkan
Merdeka.com - Salah satu orang tua korban penganiayaan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda Jakarta menyesalkan peristiwa kekerasan yang mengakibatkan tewasnya Dimas Dikita Handoko (19). Mereka berharap cara-cara tidak mendidik itu dihapuskan.
"Saya berharap cara-cara kekerasan seperti ini harus ditinggalkan," kata Bernard Hutabarat, orang tua salah satu korban, saat melayat ke rumah Dimas, Sabtu (26/4).
Putra sulung Bernard, yaitu Denny Tua Hamonangan Hutabarat (19) merupakan satu di antara tujuh taruna STIP Marunda yang dianiaya. Mahasiswa semester II jurusan Teknik STIP Marunda itu terluka di bagian rahang.
"Anak saya sudah boleh keluar dari rumah sakit dan melapor ke polisi. Masih ada dua lagi taruna yang masih dirawat," jelas Bernard.
Dia menambahkan, meski mengalami penganiayaan, anaknya bertekad terus menyelesaikan pendidikan di STIP Marunda. "Dia bilang lanjut, saya bilang bagus. Trauma pasti ada, tapi saya yakin dia kuat karena didikan," sebutnya.
Bernard mengakui aksi kekerasan di STIP Marunda ini sudah rahasia umum. Tapi, setiap ditanya, anaknya tidak pernah memaparkannya secara rinci. Dia hanya senyum saat ditanya.
Karena itu, Bernard berharap kekerasan itu dihentikan. Cara-cara itu dinilai tidak baik bagi pendidikan.
(mdk/ian)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya