Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Omicron BA.2 Ada di RI Sejak Januari 2022, Pakar Minta Pemerintah Waspada

Omicron BA.2 Ada di RI Sejak Januari 2022, Pakar Minta Pemerintah Waspada Prof Tjandra Yoga Aditama. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Kesehatan mencatat subvarian virus Corona Omicron BA.2 telah terdeteksi di Indonesia sejak Januari 2022. Namun, belum diketahui berapa total kasus varian tersebut di Tanah Air.

"Dari Januari sudah ada, tapi belum ada info lebih lanjut," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi saat dihubungi, Senin (28/2).

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ada berbagai bentuk varian Omicron yang melanda dunia saat ini, yakni BA.1, BA.1.1, BA.2 dan BA.3. Varian Omicron yang mendominasi di Indonesia ialah BA.1.

"Angkanya rata-rata BA.2 dunia mencapai 21,09 persen dari semua Omicron. Jadi satu dari lima Omicron di dunia sekarang ini adalah jenis BA.2," jelasnya.

Beberapa Negara Sudah Deteksi Omicron BA.2

Menurut Prof Tjandra, ada beberapa negara tetangga yang sudah mencatat dominasi varian Omicron BA.2, di antaranya Brunei Darussalam, Filipina, Bangladesh, China, India, Nepal, dan Pakistan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan bahwa prevalensi tertinggi BA.2 di Asia Tenggara, yaitu 44,7 persen.

"Indonesia perlu waspada dan mengambil langkah antisipasi yang tepat, kalau-kalau BA.2 juga akan meningkat di negara kita," katanya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menuturkan, karakteristik varian Omicron BA.2 masih terus dipelajari. Hasil pemantauan sementara, nampaknya varian tersebut lebih mudah menular daripada BA.1.

Sementara menurut WHO sampai 22 Februari 2022, belum ada bukti bahwa BA.2 menimbulkan dampak kasus menjadi lebih berat. Hal ini sesuai data dari Afrika Selatan, Inggris dan Denmark yang menunjukkan beratnya penyakit sama saja pada BA.1 dan BA.2.

Namun, publikasi pra-cetak 16 Februari 2022 dari Jepang yang berjudul 'Virological characteristics of SARS-CoV-2 BA.2 variant' menyebutkan nampaknya BA.2 dapat lebih berat.

"Uji coba pada binatang memang menunjukkan bahwa BA.2 dapat menimbulkan dampak klinik lebih berat, tetapi ini pada binatang percobaan, belum tentu terjadi terjadi pada manusia," ujarnya.

Dia melanjutkan, WHO juga masih menyatakan bahwa efikasi vaksin masih sama antara BA.2 dan BA.1. Sementara penelitian di Jepang menduga efektivitas vaksin menurun, walau dapat meningkat kembali sampai 74 persen dengan booster.

Penelitian di Jepang juga menunjukkan bahwa pada infeksi dengan BA.2 terjadi penurunan efektifitas obat antibodi monoklonal seperti sotrovimab.

"BA.2 tidak memiliki fenomena SGTF (S gene target failure), sehingga penggunaan PCR SGTF jadi terbatas, sehingga perlu memperbanyak pemeriksaan Whole Genome Sequencing," tutupnya.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP