Nyali Besar Terapis Mental Pasien Corona
Merdeka.com - Kepedulian sosial menggerakkan hati Kuriake Kharismawan untuk bergabung dalam barisan relawan penanganan Covid-19 di Semarang. Dia mendapat tugas membantu konseling dan terapi agar mental ratusan pasien yang sedang menjalani karantina di rumah dinas Wali Kota Semarang pulih dan tetap terjaga.
Lima bulan sudah Kuriake menjalankan tugas. Semangatnya tidak pernah menurun meski rasa khawatir akan tertular virus.
"Ini tugas sosial, kami jalankan dengan ikhlas dan senang hati. Khawatir terpapar pasti ada, kan juga ikut terjun pendampingan. Kapan saya terpapar? dari awal saya sudah niat bantu memulihkan mental mereka agar saudara-saudara yang terpapar corona cepat sembuh," kata Kuriake yang juga dosen Universitas Katolik Soegijapranata Semarang saat diwawancara merdeka.com, Sabtu (24/10).
Dalam tugasnya, setiap datang selalu memberikan konseling dan terapi agar pasien Covid-19 sembuh. Dengan bantuan konseling dan terapi, nantinya bisa meringankan beban pasien dari rasa takut dan bosan.
"Kita ajak bermain kelompok, gimana caranya mereka supaya bisa tertawa. Mereka saling kenal, berbagi cerita sama pasien lain, bisa akrab, dan punya keluarga baru. Dengan hati senang mereka bisa lega dan tidak beban sehingga bisa memulihkan kondisi psikisnya," ungkapnya.
Kuriake tidak sendirian, ia dibantu mahasiswanya melakukan pendampingan psikolog pada orang tanpa gejala (OTG). Adapun bentuk kegiatan dukungan psikososial di antaranya sharing kelompok, konseling, individual, berbagai ragam relaksasi, terapi hingga permainan dan hiburan.
Kebanyakan para pasien Covid-19 punya berbagai gangguan psikis ringan hingga berat. Mereka merasa khawatir berlebihan karena memikirkan respon tetangga dan keluarganya.
"Banyak khawatir ini yang membuat pasien susah tidur, dan membuat imunitas tidak berangsur baik. Mereka mikir, bagaimana respons tetangga tentang satu anggota keluarganya yang sedang jalani karantina akibat positif Covid-19," ungkapnya.
Bahkan ada pasien menyesal dengan kedatangannya di rumah membuat anggota keluarganya meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Atas kecemasan itu, tim melakukan pendampingan terapi psikososial agar bisa mencurahkan keluh kesahnya.
"Kami suruh keluh kesahnya dikeluarkan. Pasien yang menyesal atas keluarganya meninggal akibat terpapar corona tidak lagi ditangisi terus. Saya arahkan untuk diikhlaskan dan doakan saja. Setelah diminta cerita pasien dengan lelah sendirinya berakhir tidur," jelasnya.
Dia juga merasa tersentuh hatinya ketika ada seorang anak yang berulang tahun ketujuh. Namun karena sedang karantina, dan keberadaan orang tua juga sedang karantina di kota lain, ia bersama tim berusaha menghibur anak itu agar bisa merayakan.
"Akhirnya kami bawakan roti dan kado. Dia akhirnya senang, bisa rayakan ulang tahun kecil-kecilan mesti karantina, ini yang kami lakukan agar anak itu tidak kecewa," tuturnya.
Dari setiap tahapan terapi, Ake kerap menemukan gangguan kecemasan dan perubahan fisik pada pasien Covid-19. Mulai sedih berkepanjangan, sering menangis, ada rambutnya yang rontok, mengeluh dadanya terasa panas hingga mengalami depresi.
"Ada yang kondisinya biasa-biasa, ada yang sampai depresi. Itu karena dia mikirin kenapa penyakitnya selama 30-35 hari tidak kunjung sembuh. Terus kita lihat kondisinya drop, dia nangis terus. Jadinya terapi medisnya macam-macam. Untuk memulihkan mental pasien sekitar dua minggu sampai dua bulan," kata Ake.
Sedangkan terapi metakognitif ini bisa mengabadikan keadaan khawatir menjadi bisa menenangkan para pasien Covid-19 di Rumdin Semarang. Adapun terapi ini dengan duduk bersimpuh seperti orang berzikir.
"Memang mirip zikir. Tapi itu namanya terapi meta. Bisa ngajari supaya napasnya tenang," ujarnya.
Selama menangani pasien Covid-19, kondisi pasien yang di rawat di rumah dinas selalu penuh dengan pasien berbagai usia dan latar belakang pekerjaan. Mulai muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, lansia bahkan ada anak-anak. Setiap hari ada yang datang dan pulang.
"Kapasitas ruang isolasinya maksimal 120 orang. Dan yang menghuni macam-macam. Antara 80 sampai 90 orang. Setiap hari penuh, ada yang sembuh keluar, dan ada yang masuk dirawat. Kalau anak-anak sekitar 5 sampai 10 orang kondisinya tidak ada yang parah," tutupnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya