'Niatkan karena Allah, bukan ingin dipanggil Bu Haji dan Pak Haji'
Merdeka.com - Sepekan jelang puncak haji, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia tengah gencar menyosialisasikan bimbingan ibadah tentang persiapan puncak haji pada 9 Zulhijjah wukuf di Arafah dan Mina kepada jemaah haji Indonesia. Bimbingan dilakukan sampai ke tempat-tempat pemondokan jemaah.
Salah satunya sosialisasi dilakukan di Hotel Grand Aseeel yang terletak di sektor IV, Makkah. Anggota Amirul Hajj Oke Setiadi Efendi memberikan penjelasan agar jemaah menjadi haji yang mabrur. Menurutnya, ada empat hal yang perlu dilakukan, yaitu; pertama, iman dalam arti percaya dan yakin. Percaya kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Akhir, serta Qada dan Qadar sebagaiman diajarkan ulama. Yakin bahwa apa yang ibadah yang sekarang dijalankan adalah perintah Allah.
"Apa saja yang meningkatkan keimanan kita, segera laksanakan. Sebaliknya, yang melemahkan keimanan segera ditinggalkan," ujarnya saat menyapa ribuan jemaah hotel 401 Sekotor IV, Makkah, Rabu (23/08).
Kedua, ikhlas. Jalankan wukuf dengan ikhlas dan niat wukuf hanya karena Allah. "Niatkan wukuf dalam hati hanya untuk Allah, bukan karena ingin dipanggil Bu Haji dan Pak Haji," ujarnya.
Ketiga adalah hamasah atau semangat untuk menjalankan ibadah. Ibadah wukuf di Arafah diperlukan semangat. "Dasar semangat adalah perasaan yang menggelora," tuturnya.
Keempat, Amal. Amal adalah wujud dari kemampuan kita untuk melaksanakan rukun dan wajib haji, termasuk wukuf di Arafah dan beribadah di sana.
Pembinaan keagamaan di Sektor IV ini diikuti ribuan jemaah haji. Hotel Grand Al Asheel ini dihuni 3.016 jemaah yang tergabung dalam 7 kloter, yaitu: BPN 02, JKS 09, UPG 05, PLM 02, PDG10, JKS65, BTH23.
Sementara di pemondokan lain, sosialisasi di sektor 3 Makkah dilakukan oleh naib atau wakil Amirul Hajj Muhammad Asrorun Niam. Ia mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk mengutamakan amalan wajib agar tidak kehabisan tenaga saat puncak haji.
"Ada prioritas-prioritas, jangan sampai kita mengejar sunah, yang sunah belum tentu dapat, yang wajibnya juga hilang," ungkap Asrorun di hadapan jemaah calon haji asal Aceh.
Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat Jakarta ini menjelaskan, menjelang puncak haji dibutuhkan fisik yang prima. "Ini kan mumpung di sini, banyak jemaah yang sering memaksakan, sunah iya, wajibnya, iya, eh ketika puncaknya, justru sakit, itu harus dihindari," katanya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya