Nasir Abbas: Terorisme Berawal dari Kesalahpahaman
Merdeka.com - Mantan Ketua Jamaah Islamiah (JI) Wilayah Timur, Nasir Abbas membeberkan alasan seseorang melakukan tindakan terorisme. Akar permasalahan utamanya kata dia, yakni karena adanya kesalahpahaman terhadap suatu ajaran Islam.
Kesalahpahaman itu kemudian berkembang menjadi sikap intoleran. Dari sikap intoleran itulah kemudian berpotensi terpapar radikalisme, hingga akhirnya bisa melakukan tindakan terorisme.
"Mengapa sih kok mau (jadi teroris)? Alasan pertama itu karena mereka gagal paham atau salah paham. Mereka merasa dirinya atau kelompoknya paling benar, paling Islam. Padahal Allah menciptakan kita berbeda-beda, dalam islam saja ada mazhabnya berbeda-beda," kata Nasir Abbas dalam diskusi virtual yang digelar Universitas Budi Luhur, Selasa (6/4).
Nasir kemudian menjabarkan proses tersebut dengan menceritakan pengalamannya saat masih berusia 16 tahun. Saat itu ia mengaku bahwa dirinya memiliki sikap intoleran yang membawanya bergabung menjadi anggota JI.
"Saat saya berusia 16 tahun, saya sudah mendapat pemahaman Wahabi. Pemahaman saya, itu bid'ah, kalau tidak mau mengikuti mazhab. Jadi saya tidak menghargai dan mengakui perbedaan dan tidak menghormati," ungkap Nasir.
Dia bercerita bahwa dirinya tidak segan-segan untuk menegur setiap orang yang salat di masjid jika orang itu memembaca lafaz niat "usholli". Dalam pemahamannya saat itu, membaca lafaz tersebut termasuk bid'ah. Sehingga ia langsung menuding imam tersebut bisa masuk neraka.
Sebenarnya kata dia, sampai saat ini pun masih banyak orang yang menganut pemahaman yang sama saat ia masih remaja dulu, namun tidak semua orang bersikap intoleran. Seseorang bisa dikatakan intoleran kata dia, jika orang tersebut melakukan hal seperti dirinya, yakni hingga menegur orang yang berbeda dengannya. Dari sikap intoleran itulah paham radikalisme bisa mudah dimasuki.
"Dulu saya anti tahlilan atau doa di kuburan. Saya anggap semua bid'ah. Saya yakin ada yang seperti itu juga tapi untuk dirinya saja, tapi kalau saya sampai menuding dan menuduh orang kalau tidak melakukan yang sama dengan saya dia bid'ah atau haram," tuturnya.
"Setelah selesai salat, saya bilang ke orang itu, Bang, salat abang tidak diterima, itu bid'ah arena abang baca Usholli. Rasul tidak baca itu. Abang calon penghuni neraka," kata Nasir menuturkan ucapannya saat masih berusia 16 tahun.
"Bayangkan, umur 16 saya melakukan teguran seperti itu dan saya punya dasar hadisnya saat itu yaitu 'barang siapa yang tidak mengikuti kami atau tidak sama dengan kami maka dia bid'ah'. Karena dia bid'ah, dia sesat dan akan masuk neraka," ujarnya.
Mengaku Gagal Paham
Setelah beranjak dewasa dan mendapatkan pemahaman yang lengkap, dia pun menyadari bahwa saat itu dia salah paham. Setelah dewasa, ia sadar bahwa Allah menciptakan banyak hal yang beragam dan berbeda, agama Islam pun memiliki mazhab yang berbeda, sehingga pendapat atau aturannya pun berbeda.
"Saya gagal paham. Padahal pendapat ulama, boleh baca usholli, boleh tidak. Karena saya tidak menerima perbedaan, saya berani menegur dan itu termasuk sikap intoleran," kata pengamat terorisme itu.
Nasir mengatakan, ketika seseorang itu intoleran, kata dia, maka akan memungkinkan masuknya paham baru untuk mengubah sistem negara atau istilahnya radikalisme. Dia menyebutkan, radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial politik dengan kekerasan.
"Seseorang itu tidak mungkin langsung melakukan kekerasan. Pasti semua berasal dari pikirannya. Itu yang membuat dia melakukan perilaku (kekerasan itu)," ujarnya.
"Sehingga orang intoleran lebih mudah masuk ke radikalisme, yaitu yang anti 4 pilar. Kalau mereka sudah melakukan kekerasan yang lebih besar, itu terorisme," kata dia.
Senada dengan Nasir, Dosen Pasca Sarjana Kajian Terorisme Universitas Budi Luhur Untung Sumarwan menyebutkan bahwa terorisme merupakan suatu perbuatan atau tindakan berupa kekerasan ataupun ancaman yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan objek vital atau fasilitas umum
"Terorisme sifatnya juga hampir semuanya sama, menimbulkan ketakutan, trauma, dan lain sebagainya," kata kriminolog Universitas Budi Luhur itu.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya