Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nasib Adi terombang ambing bak kapal getek yang tergerus zaman

Nasib Adi terombang ambing bak kapal getek yang tergerus zaman Pedagang kapal getek. ©2015 Merdeka.com/Teddy Agus

Merdeka.com - Panas terik matahari tak mampu mematahkan semangat Adi (38) untuk mencari sesuap nasi. Meski tak satu pun pengendara berhenti untuk melihat barang dagangannya, namun pria kelahiran Cirebon ini tak kenal kata mengeluh.

Adi, merupakan salah satu dari sekian banyak penjual kapal getek yang tergerus modernisasi. Tak banyak warga ibu kota yang melirik barang jualannya itu. Tapi dia tetap berusaha agar kapal getek miliknya mampu menarik perhatian para pejalan kaki maupun pengendara yang melintas.

Dari sepanjang Jalan Kebagusan Raya, atau tepatnya dekat Pintu Timur Kebun Binatang Ragunan, Adi menjadi satu-satunya pedagang tradisional yang tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi. Meski kalah bersaing dengan mainan modern, dia tetap berusaha agar dapat memberikan sesuap nasi bagi anak dan istrinya.

"Saya cuma ninggalin anak istri mas di sana, demi makan di sini," kata Adi saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (5/2).

pedagang kapal getek

Adi mengaku meninggalkan anak dan istrinya sejak 1994 lalu ke Jakarta demi mencari rezeki yang lebih baik. Selama di ibu kota, dia tinggal seorang diri dengan mengontrak sebuah rumah di Gang Kawat, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Semula, Adi berdagang di sekitar Kebun Binatang Ragunan. Akan tetapi, kebijakan tegas yang diambil pengelola dengan melarang pedagang kaki lima membuatnya harus mencari lokasi lain yang lebih memadai. Setelah beberapa lama mencari, dia pun memilih lokasi yang tidak terlalu dari lokasi jualannya semula.

Hanya bermodalkan meja kayu, dia meletakkan seluruh barang dagangannya di atas selokan. Sedangkan, pedagang lain yang pernah ikut berdagang bersama mencari lokasi yang lebih baik.

"Semua pedagang dilarang dagang di sana mas, makanya saya pindah ke sini." ungkapnya ke merdeka.com, Kamis (5/2).

Mainan getek jualannya merupakan mainan tempo dulu yang sudah tergerus zaman. Kini, seluruh mainan anak-anak yang berseliweran di berbagai penjuru ibu kota membuat barang kapal kecil berbahan bakar minyak tanah tersebut tak mampu bertahan. Banyak pedagang yang akhirnya memilih gulung tikar.

Agar tetap bertahan, dia pun menjual mainan tersebut dengan harga Rp 15 ribu. Selama berhari-hari berjualan, hasil penjualan Adi hanya cukup untuk membeli seporsi nasi bagi dirinya sendiri. Hanya setiap akhir pekan saja dia dapat menyimpan sebagian keuntungannya untuk dikirimkan kepada anak dan istrinya.

"Dulu sih enak mas, pas masih di ragunan. Lumayan lah untungnya. Sekarang ya cuma cukup buat makan, enggak nentu pendapatannya," lanjutnya.

Meski begitu, Adi tetap menyimpan impian besar, yakni memiliki sebuah kios agar bisa menjual seluruh mainannya di lokasi yang lebih baik. Dia pun yakin, masih ada orang yang membeli mainan tradisional ini.

"Saya dagang ini karena unik mas, dan banyak yang bernostalgia," tutupnya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP