Nama Gus Dur terukir di sinci altar Gedung Rasa Dharma Semarang
Merdeka.com - Jasa Presiden keempat Indonesia KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur bagi etnis Tionghoa sangat besar. Karena kebijakannya, keran budaya dan perayaan hari-hari besar etnis Tionghoa yang selama Orde Baru tertutup, bisa dinikmati seluruh masyarakat.
Bagi Eko Harto atau Ong Ek Hok, Ketua Lansia Dharma Senja, Gus Dur adalah pahlawan yang tak terlupakan. Sehingga, namanya termasuk yang ada di sinci (papan kayu) altar dan di tengah patung para dewa. Di altar tersebut terdapat 25 sinci, salah satunya terdapat sinci bertuliskan nama KH Abdurahman Wahid.
"Keberadaan sinci berguna untuk melacak silsilah leluhur, mau melihat keturunannya sampai ke tingkat paling awal menjadi mudah," ungkapnya di Semarang belum lama ini.
Jika ditelusuri dari silsilah keluarganya, menurut Ong, Gus Dur mempunyai marga Tan. Fakta tersebut diperkuat saat semasa hidupnya Gus Dur pernah menelusuri silsilah leluhurnya sampai ke China.
"Sinci yang berukir nama Gus Dur tersebut sudah ada di sini sejak lima tahun terakhir. Itu sudah sesuai persetujuan dari pihak keluarganya sebagai bentuk penghormatan tertinggi sebagai Bapak Tionghoa Indonesia," terangnya.
Ong menegaskan Gus Dur tidak pernah membeda-bedakan latar belakang agama seseorang dalam setiap kebijakan. Gus Dur juga aktif membela hak-hak warga peranakan Tionghoa.

"Saat beliau masih hidup, segala sesuatu ngurus surat kependudukan dan lainnya selalu disamaratakan. Gus Dur sering ngasih nasihat dan arahan-arahan yang bijak. Gus Dur bisa mengembalikan hak hak orang Tionghoa," katanya.
Salah satunya adalah kebebasan merayakan Imlek. Jika awalnya Imlek hanya dirayakan secara tertutup di tiap rumah. Namun setelah menjadi presiden, Gus Dur melegalkan Imlek dirayakan secara massal. "Makanya kami buatkan altar khusus menghormati arwah Gus Dur. Setiap tanggal 1 dan 15 pada penanggalan China pasti banyak yang sembahyang di sini. Gus Dur-lah satu-satunya tokoh Muslim yang punya sinci di Gedung Rasa Dharma," katanya.
Mulanya, Hari Raya Imlek merupakan perayaan untuk menyambut musim semi di China. Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres Nomor 19/2002 sejak 2003. Selain Indonesia, Imlek juga jadi hari libur nasional di Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand dan Vietnam.
Ia pun tidak bisa membayangkan jika tanpa campur tangan Gus Dur, rangkaian perayaan Imlek pasti tidak pernah ada di Indonesia. "Gus Dur adalah pahlawan bagi warga Thionghoa. Ketika Imlek kita selalu mengingat bahwa Gus Dur punya jasa yang melestarikan Imlek," katanya.
Mengenang besarnya jasa Gus Dur, Djohan Gondo Kusumo, pengurus Klenteng Tek Hay Bio, mengatakan sejak peristiwa G/30S/PKI, keturunan Tionghoa mendapatkan pelarangan dari pemerintah, bahwa semua kegiatan yang berbau kebudayan Tionghoa adalah berbau PKI, dan itu selama 32 tahun.
"Setelah Gus Dur dengan penerapan undang-undang, kami lebih mendapat perlindungan hukum, bisa melakukan ritual kami secara bebas, bisa melakukan kirab secara bebas di jalan-jalan, karena itu penting," katanya.
"Gus Dur adalah bapak kebhinekaan. Karena mengakui bahwa keturunan Tionghoa sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang mempunyai kebudayaan yang harus dilestarikan," katanya.
Djohan menjelaskan, dengan kebebasan tersebut akhirnya bisa dirasakan semua pihak. Kalau di Semarang salah satu yang bisa dirasakan adalah Semawis. Untuk tahun ini, Pasar Semawis digelar pada 14-16 Februari 2018. Berbagai kegiatan yang masuk dalam Pasar Semawis nanti bertajuk Pasamuan Anak Zaman Now.
Abdul Ghofar, Koordinator Gusdurian Kota Semarang mengapresiasi atas penghargaan yang diberikan warga Tionghoa kepada Gus Dur. Ia mengatakan Gus Dur menjadi tokoh penuh toleransi yang membela hak hidup kaum minoritas di Indonesia.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya