Nakes Lansia di Palembang Mengaku Tak Rasakan Gejala Usai Divaksinasi Covid-19
Merdeka.com - Sebanyak 203 tenaga kesehatan lanjut usia di Sumatera Selatan menjalani suntikan vaksinasi Covid-19. Sebagian besar dilaporkan tidak mengalami gejala apapun selama 30 menit usai divaksin.
Dari sebanyak nakes lansia yang divaksin, 25 diantaranya berasal dari pegawai Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Sementara enam nakes lansia lainnya batal divaksin lantaran memiliki riwayat penyakit membahayakan.
Ferry Yusrizal, salah seorang dokter di RSMH Palembang mengaku tidak mengalami gejala apapun setelah divaksin. Dia nyaris saja batal divaksin karena tensi darahnya cukup tinggi dan barulah dapat disuntik vaksin setelah diminta istirahat.
"Waktu skrining pertama tensi darah saya 140/90, baru kali ini tinggi begitu. Habis istirahat, tensi normal dan bisa divaksin. Alhamdulillah tidak ada gejala apapun, baik selama 30 menit habis vaksin atau setelahnya," ungkap Ferry, Selasa (9/2).
Dia mengakui jauh hari telah mempersiapkan diri agar tetap sehat saat divaksin. Keyakinannya dapat disuntik vaksin sangat besar terlebih selama ini tak memiliki riwayat penyakit yang masuk dalam syarat vaksinasi.
"Selama ini saya tidak ada penyakit, tinggal jaga kesehatan saya agar tetap stabil," ujarnya.
Ferry mengajak masyarakat yang mendapat giliran nantinya bersedia divaksin untuk menekan penularan virus corona. Dia yang telah berusia 61 tahun saja berani divaksin, apalagi masyarakat di usia produktif.
"Jangan khawatir atau takut divaksin, jangan terima informasi menyesatkan, upaya ini demi kebaikan sesama agar tidak tertular Covid-19," kata dia.
Sementara itu, Direktur Medik RSMH Palembang Zubaedah mengatakan, pihaknya akan melakukan vaksinasi terhadap nakes lansia selama dua hari ke depan. Hal ini dilakukan setelah vaksinasi bagi seluruh pegawainya di bawah usia 60 tahun rampung dilakukan.
"Ada 31 tenaga kesehatan kami yang ikut vaksin, enam orang batal karena khawatir justru berdampak buruk bagi mereka," terangnya.
Petugas vaksin secara detail menanyakan para nakes lansia saat skrining. Pihaknya tak ingin kecolongan ada nakes lansia yang lolos skrining padahal memiliki penyakit komorbid.
"Kalau ada penyakit komorbid, hasil laboratorium harus ditunjukkan saat skrining, dari situ petugas bisa menilai layak atau tidak divaksin," tutupnya.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya