Nadiem: Risiko Terbesar 1 Generasi Ketinggalan Perkembangan Kognitif dan Juga Psikis
Merdeka.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim mengaku bingung terhadap pihak yang ingin penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dilakukan setelah selesai vaksinasi Covid-19. Dia menyebut anak Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pihak yang paling terdampak dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Nadiem mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil riset, kedua jenjang sekolah ini secara konseptual paling terdampak pada kehilangan pembelajaran atau seolah tidak sekolah selama satu tahun.
"Risiko terbesar saat ini bukanlah risiko Covid, tapi risiko permanen satu generasi kehilangan pembelajaran yang akan secara permanen mengalami bukan hanya ketinggalan perkembangan kognitif tetapi juga kondisi psikis," kata Nadiem saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (29/9).
Selain itu, Nadiem mengatakan, mayoritas murid di Indonesia saat ini merupakan anak SD dan PAUD. Karena hal itu, dia meminta sekolah dapat menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) berdasarkan aturan yang telah ditetapkan pada SKB 4 menteri.
"Itu hal yang harus dimengerti, yang paling butuh PTM nih PAUD dan SD tapi di banyak daerah mereka paling terakhir (menggelar PTM)," kata Nadiem.
Kendati begitu, dia menegaskan orang tua memiliki hak untuk memilih agar anaknya untuk PJJ atau pun PTM. "Sekarang sekolah buka dulu. Tidak memaksa kalau orang tua (tidak mengizinkan) mereka yang bisa memutuskan mereka siap tidak anaknya ke sekolah atau tidak," ujar dia.
Sementara itu, Nadiem menyebut bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mengejar pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk para pendidik. Saat ini sebanyak 62 persen guru di Indonesia telah menerima vaksinasi dosis pertama.
"Sedangkan 40 persen (guru) sudah menerima lengkap. Harus kita kejar secara cepat," kata dia.
Reporter: Ika DefiantiSumber: Liputan6.com
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya