Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Muslihat mantra Dimas Kanjeng, buka koper sembarangan tak jadi uang

Muslihat mantra Dimas Kanjeng, buka koper sembarangan tak jadi uang Pengasuh Padepokan Kanjeng Dimas. ©2016 Merdeka.com/Masfiatur Rochma

Merdeka.com - Muhammad Nur Jamil, anak bungsu almarhumah Najemiah Muin beberapa kali memberikan saran agar ibu kandungnya itu tidak mempercayai modus penggandaan uang Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Tetapi Najemiah bersikeras tetap mengirim uang Rp 200 miliar lebih ke Taat.

Dia membenarkan emas batangan 400 kilo gram, mustika, keris, uang palsu sembilan koper merupakan simpanan ibunya. Barang pemberian Taat saat ini sudah diamankan polisi.

"Benar ada emas batangan beratnya sekitar 400 kilo gram, uang rupiah dan asing diduga palsu. Jenglot, mustika dan keris lainnya dalam koper itu ada disimpan bunda. Sejak awal memang saya selalu curiga ingin membuka, tapi bunda melarang karena masuk informasi bila membuka tanpa seizin kanjeng akan kena musibah," jelasnya, Rabu (5/10).

Pria yang berprofesi sebagai pengusaha lintas kabupaten ini mengaku, setiap peti jika ingin dibuka akan ada telepon masuk dan melarang membuka peti lalu meminta mahar. Sebanyak Rp 400 juta sempat dikirim. Bahkan, semua peti harus diberi minyak khusus dengan harga cukup mahal.

"Katanya kalau mau dibuka harus minta petunjuk kanjeng. Kalau tidak seizin kanjeng maka tidak jadi uang. Koper-koper itu datang satu persatu, ada yang dibawakan dan ada pula bunda yanga bawa sendiri pulang," ungkapnya.

Najemiah telah tutup usia. Saat dibawa ke rumah sakit di Makassar didiangnosa terkena maag. Karena tidak puas lalu dibawa ke Singapura. Setelah berobat di negara tetangga itu lima bulan lalu, Najemiah meninggal.

Nur curiga ada hubungan penyebab kematian ibunya setelah meminum air dalam botol kiriman dari orang suruhan Kanjeng Dimas atas nama VJ. Kendati demikian dirinya tidak tahu persis berapa kali menerima air tersebut.

"Ada kiriman air dibawa suruhan Kanjeng Dimas ke bunda untuk diminum. Tetapi beberapa selang kemudian bunda jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, setelah beberapa saaat dirawat bahkan dibawa ke Singapura, namun bunda akhirnya meninggal dunia," tandasnya.

Sebelumnya, tim penyidik dari Polda Jawa Timur Kompol Pamuji tiba di Makassar pada Senin (3/10). Didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Frans Barung Magrera langsung menuju padepokan perwakilan Kanjeng Dimas Pribadi yang dikelola Marwah Daud di rumahnya jalan Bontobila, Kelurahan Bontobila, Kecamatan Manggala, Makassar.

Padepokan itu tertutup rapat dan tidak ada aktivitas. Penyidik Kompol Pamuji bersama Kapolda Sulsel Irjen Anton Charliyan, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Rusdi Hartono dan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Frans Barung Mangera menyaksikan langsung barang bukti uang dan emas batangan serta mustika batu mulia yang diduga palsu itu.

Saat pembokaran beberapa peti itu di rumah korban Jalan Sunu kompleks perumahan dosen blok K/10, Tallo, Makassar ditemukan empat peti uang palsu baik rupiah dan mata uang asing. Kemudian peti lainnya berisikan emas batangan, batu mustika, keris dan barang lainnya diduga palsu.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, barang-barang tersebut didapatkan secara bertahap dengan keseluruhan seperti mata uang asing dan kepingan emas batangan sebanyak sembilan koper uang dan satu peti emas serta batu mulia lainnya mulai tahun 2013-2015.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP