Museum Radya Pustaka kini semakin terseok-seok
Merdeka.com - Kabar buruk datang dari Surakarta, Jawa Tengah. Museum tertua di Indonesia, Radya Pustaka, yang diharapkan bisa menjadi sarana belajar dan mengingatkan warga terhadap budaya mereka, kini nyatanya terseok-seok.
Padahal, banyak cara sudah diambil buat memperbaiki citra museum. Apalagi sebelumnya beberapa artefak sempat hilang dan diperjualbelikan di pasar gelap.
Bangunan museum uzur itu pun semakin reyot dimakan zaman. Pada umurnya yang lebih dari 120 tahun, perbaikan memang diperlukan. Sebab warga dan pengunjung menganggap tempat itu angker. Itu pun setelah Komite Museum Radya Pustaka merajuk kepada Pemerintah Kota Solo.
Perbaikan museum didirikan pada 1890 itu terlaksana pada 2012, dengan menelan dana Rp 2,3 miliar. Namun, persoalan tak berhenti di situ. Hak kepemilikan tanah museum juga bermasalah.
Upaya pemeliharaan artefak dan digitalisasi naskah kuno koleksi museum juga tidak mudah. Penyebabnya, mereka kekurangan sumber daya manusia dan peralatan.
Meski demikian, upaya itu kurang membuahkan hasil. Meski sudah merancang program buat menarik minat pengunjung, ternyata hal itu kurang berdampak. Malah museum itu terancam bangkrut. Gaji belasan pegawai, komite, dan penasihat terlambat dibayar.
Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Purnomo Subagyo mengatakan, sudah mengajukan permintaan dana hibah. Namun, duit itu tak kunjung cair.
Alhasil, sejumlah karyawan di museum itu tak masuk kerja sejak dua hari terakhir. Akibatnya, mereka terpaksa menutup layanan kunjungan museum peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta itu. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya