Mudik tak cuma di Indonesia
Merdeka.com - Fenomena mudik ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar mengatakan, sejumlah negara dengan perayaan-perayaan massal yang diperingati oleh warga negaranya juga melakoni ritual pulang kampung ini.
Hal ini terjadi karena pola urbanisasi juga tak hanya terjadi di Indonesia,, tapi juga di seluruh negara di dunia. Terlebih, adanya sejumlah hari raya atau peringatan dan festival kebudayaan, memungkinkan para perantau ini untuk pulang ke kampung halamannya demi merayakannya bersama keluarga.
"Kita lihat di Malaysia, kalau lebaran itu luar biasa arus mudiknya. Hampir sama kaya di Indonesia. Juga di Jepang, kalau kita lihat pada hari raya keagamaan mereka, mereka juga mudik ke kampung halamannya," ujar Musni saat dihubungi merdeka.com, Jumat (1/7).
"Jadi sebenarnya mudik ini sudah menjadi budaya masyarakat global," katanya menambahkan.
Selain itu, Musni juga menjelaskan sejumlah tradisi mudik, yang dilakukan di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Bangladesh, bahkan di Amerika Serikat.
Di China, tradisi mudik biasanya dilakukan pada saat hari raya Imlek. Masyarakat China akan melakukan mudik ke kampung halaman, agar bisa merayakan imlek bersama-sama keluarganya. Dan seperti di Indonesia, mudik di China juga secara otomatis meningkatkan volume kendaraan di jalan.
"Sehingga, macet menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi, China merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia," kata Musni.
Selain China, masyarakat Korea Selatan juga melakukan mudik, terutama pada momentum perayaan Festival Chuseok di musim gugur. Festival yang bertujuan untuk menghormati arwah para leluhur ini, tak pelak mampu mengajak ribuan masyarakat Korsel untuk melakukan mudik, sehingga kemacetan pun kerap terjadi dimana-mana.
Saat pelaksanaan festival Chuseok, masyarakat Korsel akan mengunjungi makam para orang tua dan leluhurnya, serta melakukan doa kepada arwah-arwah mereka di hadapan nisannya. Setelah itu, mereka akan berkumpul bersama para handai taulannya, untuk makan bersama dengan makanan khas mereka, yakni Songpyeon.
Kemudian, aktivitas mudik saat hari raya idul fitri nyatanya memang tak hanya terjadi di Indonesia saja. Bangladesh sebagai salah satu negara berpenduduk mayoritas muslim, merupakan salah satu negara yang kebudayaannya juga menganut ritual mudik.
Fenomena mudik di Bangladesh pun tak jauh berbeda dengan budaya mudik di Indonesia. Bahkan, Bangladesh Railway kerap menjual tiket keretanya sebanyak 300 ribu tiket, demi memudahkan masyarakat Bangladesh untuk melakukan mudik menjelang hari raya Idul Fitri.
Tak ketinggalan, sejumlah warga Amerika Serikat pun ternyata juga kerap melakukan ritual mudik semacam ini. Perayaan Thanksgiving yang kerap diperingati setiap Kamis ke empat di November, merupakan momentum bagi mereka untuk 'homecoming' kepada sanak familinya di kampung halaman.
Makanan khas mereka saat merayakan Thanksgiving tak lain adalah kalkun panggang, yang disajikan dan dinikmati bersama para handai taulan mereka di tanah kelahirannya.
Terakhir, India juga merupakan salah satu negara yang masyarakatnya melakukan ritual mudik. Masyarakat India melakukan ritual mudik ini setiap menjelang pelaksanaan Festival Deepavali (festival cahaya), yang jatuh pada bulan Oktober atau November setiap tahunnya.
"Festival ini dirayakan selama lima hari berturut-turut oleh masyarakat India. Mereka akan menghias rumah-rumah mereka, dan menyalakan kembang api serta petasan di sepanjang jalan. Hal ini akan mereka lakukan dengan penuh kegembiraan pada malam hari perayaan," pungkasnya. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya