Moncong tank bukan ancaman bagi Sultan Hamengku Buwono IX
Merdeka.com - Meski secara militer Belanda berhasil menguasai Yogyakarta pada Desember 1948 lewat Agresi Militer Belanda II, namun hal tersebut tidak ada artinya, karena tidak ada dukungan secara nyata dari warga. Untuk mendapatkan dukungan warga, pejabat Belanda sejak awal mencoba mendekati Sultan Hamengku Buwono IX, agar bisa melunakkan hati warga Yogyakarta.
Saat itu, skenario yang digunakan pejabat Belanda adalah dengan mengangkat Sultan sebagai Wali Negara. Sultan tak hanya diberi kekuasaan di wilayah bekas Karesidenan Yogyakarta, namun penguasa Yogyakarta itu diberikan kekuasaan lebih luas, yaitu akan memimpin negara bagian yang meliputi seluruh wilayah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Dengan kekuasaan itu, Sultan akan memiliki kekuasaan di seluruh wilayah bekas Republik di pulau Jawa, kecuali Banten, sebelum diserbu dan dan kemudian dikuasai tentara Belanda setelah Operasi Kraai.
Namun, rencana pejabat Belanda itu tak berjalan mulus. Sultan dengan tegas menolak tawaran tersebut. Dalam buku 'Doorstoot Naar Djokja', sejarawan dan ilmuwan politik asal Amerika, George Kahin menyebutkan, tidak ada ucapan selamat datang dari sang Sultan kepada pejabat Belanda.
"Ketika Belanda mencapai Yogyakarta pada Minggu pagi tanggal 19 Desember, tidak ada sambutan dari Sultan. Dia menutup gerbang Keraton dan menolak untuk menemui komandan militer lokal Belanda, Jenderal Meijer, atau otoritas sipil Belanda," tulis Kahin.
Merasa tidak disambut ramah oleh sang Sultan, panglima tentara Belanda, Letnan Jenderal Spoor, nekad mengendarai Tank Stuart menuju pintu gerbang Keraton, sambil mengancam akan menerobos masuk. Namun, Sultan tak gentar dengan ancaman itu. Sultan justru menghampiri Spoor dan menyarankan agar sang jenderal turun dari tank dan berjalan kaki ke dalam Keraton. Mendengar perkataan Sultan, Spoor merasa senang karena dia ingin bertemu dan membicarakan tawaran Wali Negara kepada Sultan.
Dengan menggenakan baju Surjan berwarna kelam dan berkain batik, Sultan berbicara dalam bahasa Belanda secara lantang dengan perwira tinggi Belanda itu. Dalam percakapan itu, Sultan justru meminta Belanda hengkang dari Yogyakarta secepatnya.
"Oleh karena kalian sama sekali tidak berhak tinggal di wilayah yang telah diwariskan nenek moyangku, Ngayogyakarta Hadiningrat," tegas Sultan menolak kehadiran Belanda.
Setelah sepuluh menit berlalu, Sultan langsung bangkit dari kursi yang didudukinya. Sultan lantas mempersilahkan Jenderal Spoor untuk keluar dari Keraton, padahal sang jenderal belum sempat mengutarakan tawaran dari pemerintah Belanda. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya