Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Moeldoko: Jangan dengan Jubah Demokrasi Seseorang Bisa Lakukan Apapun

Moeldoko: Jangan dengan Jubah Demokrasi Seseorang Bisa Lakukan Apapun Diskusi Nasional Pemindahan Ibu Kota Negara. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta kepada publik agar tetap jaga stabilitas. Masyarakat, kata dia, harus membedakan antara demokrasi dan anarkis.

"Saya ingin katakan dengan tegas adalah beda antara demokrasi dengan anarkis itu sungguh sangat tipis," kata Moeldoko di hadapan para cendekiawan dalam acara forum titik temu 'kerjasama multikultural untuk persatuan dan keadilan' di Hotel Double Tree, Cikini, Menteng, Pusat, Rabu (18/9).

"Jangan dengan jubah demokrasi, seseorang bisa melakukan apapun. Dan yang pada akhirnya justru sumber anarkis," sambungnya.

Moeldoko menjelaskan, untuk mengelola sebuah negara demokrasi tidak mudah. Ada sebuah teori, katanya, bagaimana mengatur kestabilan.

"Pemerintah yang begitu ketat mengendalikan stability, maka pasti demokrasi akan terganggu. Tapi manakala demokrasi diberikan ruang sebebas-bebasnya dan liar, tidak terkendali, maka stabilitas itu akan terancam dan begitu stabilitas terancam, tidak ada orang happy, semua orang menderita," kata Moeldoko.

Moeldoko mencontohkan beberapa negara yang ingin bergerak ke arah demokrasi tetap gagal di tengah jalan karena tidak bisa mengendalikan dengan baik. Beberapa negara tersebut yaitu Mesir, Suriah dan Irak. Untuk itulah, kata dia, hubungan yang sangat baik ada kunci utama.

"The point of no return, apa yang terjadi di berbagai negara. kalau sudah the point of no return, maka tidak ada gunanya. Kita baru sadar setelah rata, tidak ada gunanya. Untuk itulah mengelola negara sungguh diperlukan," tegas mantan Panglima TNI itu.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP