Mitos GMT, dari Batara Kala sampai bumi dan matahari galau
Merdeka.com - Masih terngiang euforia munculnya Gerhana Matahari Total (GMT) yang luar biasa indah menyapa tanah air tercinta, Indonesia, pada Rabu (9/2) pagi. Ada yang benar -benar tak mau kehilangan momen walau hanya sedetik, ada pula yang enggan menyaksikan sebab mitos sejak terdahulu.
Ya, fenomena satu ini memang tak pernah luput dari mitos atau kepercayaan-kepercayaan rakyat terdahulu. Salah satunya adalah Batara Kala atau Dewa Waktu. Gerhana matahari ini bisa dikatakan sebagai tenggelamnya perputaran waktu di mana keburukan harus dihapuskan dengan suatu kebaikan.
"Ketika matahari tenggelam artinya termakan oleh waktu, ada suatu perputaran di mana salah satu contohya orang kebanyakan mengais rezeki pada siang hari, sedangkan tidur di malam hari. Jangan terlena dengan waktu orang bekerja dengan hal yang nantinya malah menjadi membawa keburukan," kata Budayawan Mas Nanu.
Aya lumut dina batu aya kuya di muara. Kedah emut kana waktu di dunya urang ngumbara. (lumut di batu, kura-kura di muara. harus ingat pada waktu, di dunia kita hanya berkelana).
Pantun itu, lanjutnya, sejalan dengan surat Al Ashr ayat 1-3 : Demi masa! Sesungguhnya manusia kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal salih dan berpesan dengan kebenaran dan kesabaran.
"Jadi gerhana menunjukkan perputaran waktu. Ketika manusia waktu digunakan tidak baik manusia akan termakan waktu. Orang kerja, orang malas, orang tidak baik pada akhirnya akan dimakan waktu," ujarnya.
Batara Kala dalam istilah Sunda disebut juga buta atau raksasa. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya