Meski tak bisa membaca, Salim Kancil menolak tunduk
Merdeka.com - Salim Kancil memang seorang petani biasa. Namun ketika sawahnya rusak, dia naik pitam menolak kegiatan tambang pasir besi ilegal di Pesisir Watu Pecak, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Sebab jika penambangan liar terus beroperasi, sawahnya akan semakin dalam terendam air laut.
Karena menggalang gerakan penolakan penambangan pasir besi liar dan mengajak warga, Salim Kancil dan beberapa rekannya kerap diteror. Para peneror itu merupakan Tim 12, binaan Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Tim 12 dipimpin oleh Mat Dasir alias Abdul Holiq. Mereka juga diminta Hariyono mengelola tambang pasir ilegal di Pesisir Watu Pecak. Hariyono juga yang mengangkat Mat Dasir sebagai kepala keamanan desa, dan dimasukkan dalam struktur Balai Desa.
Meski ancaman terus berdatangan, Salim Kancil enggan menyerah dan terus menolak tambang ilegal. Dia juga meminta berbagai lembaga nirlaba membantunya melakukan pendampingan, terkait masalah lingkungan dan perlindungan hak untuk hidup.
"Biarkan aja aku dibunuh, aku rela mati berjuang seperti Bung Karno. Rela mati demi negara. Selama aku benar, akan aku perjuangkan," kata anak Salim Kancil, Ike Nurillah (21), menirukan perkataan sang ayah, saat ditemui di kediamannya, di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang, Rabu (7/10).
Menurut Ike, salah satu bentuk teror terjadi saat Salim Kancil sedang istirahat sepulang dari sawah. Ayahnya sedang duduk santai di teras rumahnya. Di rumah hanya ada Salim dan Ike. Tiba-tiba sekelompok orang yang dibawa Tim 12 datang, dengan membawa beberapa senjata tajam.
"Saya lagi nyapu di teras pas sore. Terus 20 orang datang, saya gemetaran, pada bawa pentungan dan arit. Bapak pas lagi duduk di teras. Mereka bilang, 'Kamu ya yang tukang lapor, awas kalau lapor lagi, tak bunuh kamu," ujar Ike sambil mengenang kejadian itu.
Menurut Ike, sambil menarik baju di bagian leher Salim Kancil, salah seorang dari Tim 12 mengajak ayahnya carok. Berkelahi satu lawan satu hingga seseorang tewas. Namun Salim Kancil menolaknya.
"Ngapain saya bunuh kamu, saya bukan orang gila. Saya punya pemerintah, saya patuh negara hukum," lanjut Ike menirukan ucapan ayahnya.
Lantas beberapa orang sempat memukul Salim Kancil. Akan tetapi dengan sigap ditangkisnya pukulan itu. Ike mengaku tubuhnya gemetar dan lemas menyaksikan kejadian itu dari jauh. Dia juga tidak menyangka mengapa ayahnya bisa santai menghadapi banyak orang yang mau membunuhnya.
"Bapak itu gak bisa nulis tapi terus getol berjuang," imbuh Ike.
Usai disambangi gerombolan itu, Salim tak mundur. Dia terus mengajak warga setempat menolak tambang liar. Salim pun kerap dipanggil menghadap Hariyono di Balai Desa Selok Awar-awar. Panggilan itu kadang berupa disampaikan langsung oleh Tim 12, disertai ancaman. Kadang hanya dilayangkan melalui surat.
"Kalau bapak memang diteror tiap hari. Terus sering dipanggil ke Balai Desa. Kadang pakai surat, kadang didatangi langsung. Kalau masalah ancaman dibunuh, hampir tiap hari," tutup Ike. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya