Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Meski penjajah, Pabrik Tjipetir perhatikan kesejahteraan pekerja

Meski penjajah, Pabrik Tjipetir perhatikan kesejahteraan pekerja pabrik tjipetir. ©2014 merdeka.com/al amin

Merdeka.com - Salah seorang warga Desa Cipetir yang pernah kerja di Pabrik Gutta Percha Tjipetir, Abah Adung menceritakan, saat masa kejayaannya, pabrik tersebut selalu ramai dengan aktivitas pekerja. Pabrik yang berada di tengah hutan tersebut tidak pernah berhenti karena memiliki pekerja yang dibagi dua shift.

"Masuk jam 5 sore apa pagi keluar jam 6. Masuk lagi orang satu hari kerja kita yang masukin yang aplus terus-terusan gitu," ujar Abah Adung, saat ditemui di rumahnya, Desa Cipetir, Jumat (5/12).

Pria berusia 90 tahun tersebut masih mengingat jelas saat ia bekerja di pabrik yang dibangun pada 1921 sebagai buruh di bagian penggilingan daun perca. Saat itu usianya masih 15 tahun.

Ia menceritakan, saat dirinya mulai masuk, saat itu, kereta gantung sedang dibangun. Kereta gantung merupakan transportasi pengangkut daun pohon perca dari perkebunan ke pabrik yang berjarak sekitar satu kilometer.

"Saya mah ikut kerja di pabrik ikut bapak. Saya dari kecil, dari lahir sudah di sini," paparnya.

Abah Adung masih ingat dengan jelas gaji yang diterimanya sebulan. Dalam sebulan, ia menerima gaji sebesar 15 sen. Ia menambahkan, meski bekerja untuk penjajah, Pabrik Gutta Percha Tjipetir tetap memperhatikan kesejahteraan pekerjanya.

"Tiap bulan pekerjanya dikasih beras. Ngambil di gudang," ujar pria kelahiran 1924 tesebut.

(mdk/ren)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP