Menteri Anies diminta masukan pendidikan seksualitas dalam kurikulum
Merdeka.com - Komunitas Simponi membawa sejumlah modul-modul pendidikan seksualitas ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk diserahkan ke Menteri Anies Baswedan. Kedatangannya itu untuk meminta Anies memasukkan pendidikan seksualitas dalam kurikulum pendidikan nasional.
"Kami konkret menyodorkan modul-modul yang sudah dilakukan kawan-kawan di beberapa daerah yang sudah bekerjasama dengan UNESCO. Pak Anies berjanji akan kolaborasi, karena Pak Anies juga punya tim, ini akan dimasukkan," kata Berkah Gamulya dari Simponi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Senin, (9/5).
Keseriusan Anies ditunjukkan dengan mengarahkan pihak Simponi kepada salah satu pihak yang bertanggung jawab akan program yang tengah digodok Kemendikbud tentang pencegahan kekerasan pada anak. Gamulya mengatakan Kemendikbud juga sudah membuat peraturan terkait pencegahan kekerasan pada anak.
"Permennya Pak Dikbud ini kan dinaikan ke Perpres. Ini menteri kan punya wewenang dan sekarang soal ini akan dinaikan levelnya khusus soal pencegahan kekerasan di sektor pendidikan. Termasuk sekolah di swasta bahkan juga sudah," ungkap Gamulya.
Bentuk konkret yang akan dilakukan pelajaran reproduksi seperti modul yang sudah ada di sekolah. Lainnya bicara soal reproduksi bukan hanya organ dan reproduksi, tetapi cara menghargai diri sendiri menghargai orang lain, bicara soal gender, pacaran yang sehat dan tidak melakukan kekerasan.
Tak hanya itu, dalam pendidikan seksualitas juga membahas tentang penyakit, HIV, ims, alkohol dan lain-lain. Sebab remaja bisa menjadi agen perubahan.
"Kalau yang teman-teman lakukan sekarang di TK dengan menggunakan alat peraga boneka. Ada bayi kecil yang bisa ditarik keluar dari dalam Ms V, gimana anak-anak tahu sitausi-situasi beresiko dan mengancam kekeradan mereka," jelas Gamulya.
Pendidikan seksualitas ini kata dia harus dilakukan sejak dini mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Namun ditiap tingkatannya berbeda-beda sesuai dengan jenjang pendidikan.
"TK pasti sangat bermacam-macam. SD baru apa yang boleh dilihat, disentuh. SMP nanti soal mimpi basah. SMA soal kehamilan. Ini bukan soal seks bebas tapi pendidikan seksualitas," tutup Gamulya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya