Menristek Sebut Indonesia bukan Negara Kaya tapi Terbuai dengan Impor
Merdeka.com - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyebut Indonesia sudah lama terbuai dengan kemudahan mengandalkan impor dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun hal ini sempat menjadi masalah saat pandemi Covid-19 terjadi.
Hal ini mengemuka saat dia menghadiri penyerahan produk inovasi untuk penanganan Covid-19 di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (8/12).
Menurut dia, kebutuhan alat atau sumber daya dalam penanganan Covid-19 masih sangat tinggi. Di sisi lain, upaya untuk memenuhinya masih tetap tertinggal. Beberapa indikatornya adalah masih ada informasi mengenai pasien yang gagal tertolong karena kesulitan alat, seperti ventilator.
"Atau ada rumah sakit yang mengeluh kekurangan ventilator, juga keluhan dari para dokter tenaga kesehatan selain beban kerja yang begitu tinggi dan juga risiko terpapar covid 19," kata dia.
Di masa pandemi, ia mengaku banyak inovasi buatan dalam negeri untuk penanganan Covid-19 yang tercipta. Namun, ia menyebut Indonesia sudah lama terbuai dengan kemudahan membeli apapun dari luar negeri.
"Tidak bisa disangkal bahwa kita dalam kehidupan di Indonesia sudah terlalu lama terbuai dengan kemudahan untuk membeli apapun yang bersifat impor, artinya kemudahan karena fasilitas yang diberikan oleh para vendor dan demikian juga aktivitas dari agen vendor tersebut baik di lingkungan pemerintah dan di lingkungan swasta di indoensia," tutur dia.
"Sehingga ketergantungan kepada produk impor secara tidak sadar kemudian muncul dan akhirnya ketika Covid-19 menjadi pandemi, barulah kita sadar data-data muncul ke permukaan bahwa 94 persen kebutuhan alat kesehatan kita impor," ia melanjutkan.
Alat yang mengimpor pun dimulai yang masuk kategori canggih sampai alat yang sederhana. Bahkan, pada awal pandemi ini, semua alat untuk swab test harus membeli dari luar negeri.
"Kita kan belum menjadi negara kaya, kategori Indonesia itu masih upper middle income country itu pun baru mulai tahun ini 2020, 4 ribu dolar kira-kira gross national income per kapita kita, hanya 4 ribu dolar padahal syarat untuk menjadi negara maju itu 12 sampai 13 ribu dolar, jadi masih jauh status kita jadi negara maju," imbuh dia.
Maka dari itu, Indonesia perlu untuk meningkatkan kualitas risetnya setelah mengalami masa pandemi. Ia mengajak para peneliti tidak menyerah dalam berinovasi.
"Kita tidak boleh menyerah dan harus mengatasinya dengan inovasi," ucap dia.
"Inovasi apa di bidang obat? Bahannya ada di depan kita semua yaitu keanekaragaman hayati ya, tapi selama ini kita mempelajari keanekaragaman hayati sebagai ilmu saja bahwa Indonesia punya keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia kalau untuk daratan, untuk nomor dua setelah Brazil, tapi kalau dikombinasi dengan lautan maka indonesia nomor satu di dunia," pungkasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya