Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menpora: Tantangan Pemuda Indonesia ke Depan Tidak Mudah

Menpora: Tantangan Pemuda Indonesia ke Depan Tidak Mudah Menpora Imam Nahrawi saat memberi kuliah umum di Universitas Padjajaran. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Menpora Imam Nahrawi mengatakan tantangan pemuda Indonesia ke depan tidak mudah, diperlukan kerja sama, kerja keras dan niat yang ikhlas. Hal ini ia sampaikan saat memberikan kuliah umum 'Tantangan Pemuda Indonesia Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0' di Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/11).

"Saya berharap agar Indonesia ke depan sejajar dengan negara maju lainnya khususnya di kawasan Asia, harus ada niat untuk melakukan apapun yg telah disepakati, misalnya proses awal hingga telah terlaksananya Asian Games dan Asian Para Games 2018," ujar Menpora di hadapan ratusan mahasiswa S2 Unpad.

Jika bicara soal Asian Games, menurut Imam, proses negosiasi menjadi tuan rumah Asian Games adalah hal yang paling berat, tidak mudah, penuh tantangan dan hambatan. Seperti beberapa negosiasi sebelum penyelenggaraan Asian Games 2018 dengan OCA beberapa item ia tekankan. Mulai dari kota tuan rumah, cabang pencak silat harus dipertandingkan, dana, sponsor dan lainnya.

"Intinya apapun yang kita lakukan asalkan ada niat baik penuh percaya diri dan untuk kepentingan bangsa pasti ada jalan keluar," tambahnya.

"Sejak saya dilantik menjadi Menpora tugas saya yang utama adalah menyiapkan Asian Games, Asian Para Games 2018 dan merevolusi PSSI dan dua-duanya telah saya jawab dan revolusi PSSI menjadi kajian tesis saya," katanya.

Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Kemenpora karena telah mendukung Unpad agar dapat berkiprah lebih baik dalam mengembangkan human capital.

"Dukungan itu diberikan oleh Pak Menteri dengan membangun kerja sama dan program seperti S2, program itu penting dan strategis karena kekuatan kita dalam membangun tantangan dan daya saing bangsa kuatnya ada di human capital, dan kami yakin human capital yang menjadi modal bangsa luar biasa insya Allah bisa memberikan kemanfaatan kepada bangsa sendiri," kata Tri Hanggono.

Menurut Tri, di era revolusi industri ke-4 perkembangan teknologi begitu cepat. Maka dari itu, kita harus kuat di human capital agar tidak mengaburkan nasionalisme yakni mengoptimalkannya dengan berprestasi.

"Semoga dengan langkah awal ini banyak lagi kerja sama yang bisa dilakukan dan semoga menjadi kebaikan di masa yang akan datang," harapnya.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP