Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menko Luhut akui ada dana dari Australia bantu teroris di Indonesia

Menko Luhut akui ada dana dari Australia bantu teroris di Indonesia Ilustrasi Teroris. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah tengah mengusut aliran dana terorisme dari Australia ke Indonesia. Pemerintah juga berkomitmen bekerja sama dengan penegak hukum asal Australia untuk mengungkap kasus tersebut.

Menko Polhukam Luhut B Pandjaitan mengakui jika memang ada aliran dana dari Australia yang dikirim ke Indonesia untuk membantu kegiatan terorisme. Dia juga mengakui tidak mudah mengungkap hal ini.

"Ya memang benar ada, informasi itu sedang kita dalami karena tidak sesederhana itu untuk mengungkapnya," kata Luhut saat jumpa pers bersama Jaksa Agung Australia George Brandis di Kantornya, Jakarta, Senin (21/12).

Luhut mengharapkan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan pemerintah Australia bisa memberikan informasi yang lebih detail dana tersebut. Namun pemerintah Indonesia sudah melakukan penyelidikan dana tersebut.

"Tadi enggak dibahas dalam pertemuan ini, tapi dibahas pertemuan di bawah (Lembaga di bawah koordinasi Kementerian Polhukam)," ujar dia.

Seperti ketahui, Wakil ketua PPATK, Agus Santoso mengatakan, saat ini ada aliran dana untuk kegiatan kelompok teroris di Indonesia dari Australia. Oleh sebab itu, PPATK Indonesia akan bekerjasama dengan PPATK Australia untuk menyelidiki aliran dana tersebut.

Dukungan aliran dana tersebut tidak mencapai angka jutaan dolar. Aliran dana itu diduga untuk kegiatan teroris membuat peralatan bom dan buku yang dilakukan di Indonesia.

"Kalau perkembangan Indonesia yang lokal ada yang cukup besar, mencapai Rp 7 miliar. Jaringannya sudah masuk ke bisnis. Yang bahaya itu kami tengarai masuk ke usaha kimia," kata Agus Santoso di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3).

Sedangkan saat diwawancarai Stasiun Televisi ABC bulan lalu, Agus menyatakan, tersangka yang mengirim uang dari Australia adalah perempuan asal Jawa berstatus WNI. Dia disokong suaminya warga kulit putih setempat. Semua rekening yang mengirim uang atas nama perempuan itu.

PPATK mendapat laporan, pertama kali transaksi mencurigakan ini dari rekan mereka, Pusat Analisis Transaksi Australia (INTRAC). Dana mencurigakan itu, rutin dikirim sejak 2012. Sebagian uang belum dicairkan, masih mengendap di perbankan Tanah Air.

"Uang ini ditransfer ke 10 rekening berbeda," kata Agus.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP