Mengurai jaringan teror bom di Kampung Melayu
Merdeka.com - Hampir satu pekan sudah teror bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pihak kepolisian masih terus mengusut teror yang menewaskan tiga anggota polisi dan melukai sebelas orang lainnya.
Polisi bergerak cepat dengan menangkap sejumlah orang diduga terkait jaringan teror bom bunuh diri di Kampung Melayu. Akhir pekan kemarin atau empat hari setelah aksi teror seorang pria berinisial R alias B asal Rembang, Jawa Tengah di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.
"Pria ini diduga memiliki kaitan dengan pelaku teror bom Kampung Melayu," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (28/5)
R alias B diamankan sekira pukul 14.40 WIB, saat bersama anaknya dan dibonceng oleh temannya berinisial K di Cibubur. R sempat diamankan karena diduga berkomunikasi dengan Ahmad Sukri (AS), salah satu pelaku bom Kampung Melayu.
Sejumlah barang bukti berupa dua unit telepon genggam, uang sebesar Rp 1,8 juta, dompet berisi KTP, kartu ATM dan BPKB sepeda motor, turut diamankan dalam penangkapan tersebut. R, saat ini diamankan ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, untuk pendalaman lebih lanjut.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, dua pelaku bom Kampung Melayu, Ahmad Sukri (AS) dan Ichwan Nurul Salam (INS) adalah anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Kelompok tersebut masuk dalam network ISIS yang merupakan sel di Bandung Raya.
"Ini adalah pendukung utama dari ISIS, ini kesekian kalinya network (jaringan) ISIS melakukan aksi di Indonesia termasuk aksi bom Thamrin," ujar Tito di RS Polri, Jumat (26/5).
Dari hasil olah TKP diketahui ledakan pertama dilakukan INS untuk memancing keadaan hingga membuat orang-orang berkumpul. Lalu ledakan yang kedua dilakukan oleh AS dengan ledakan yang amat besar hingga tubuhnya hancur.
Aksi keduanya mempunyai kemiripan dengan bom panci di Cicendo Bandung, Februari lalu. Bom panci partikelnya lebih bahaya karena ada gunting, mur, bahan peledak menggunakan BATP yang merupakan ciri khas dari kelompok ISIS. Bahannya juga dari tinner pembersih kutek dicampur dengan bahan lainnya yang menbuat serbuk putih. Ini sangat berbahaya karena dengan panas dan tekanan saja bahan itu bisa meledak.
Mereka yang bergabung dalam JAD belajar membuat bom secara otodidak, dengan bantuan internet yang diajarkan oleh Bahrun Naim, pimpinan JAD dan disebut-sebut sebagai Koordinator ISIS Indonesia di Suriah. Di Indonesia, JAD dipimpin oleh Aman Abdurahman yang kini mendekam di Nusakambangan dan Abu Jandal yang dikabarkan tewas dalam sebuah serangan.
"Kalau kita lihat dari bom yang digunakan yaitu bom panci, bisa membuat bom dari alat dapur, termasuk bom panci ini bahaya karena memiliki tekanan tinggi. Membuat bom dari alat dapur, bahkan dari gula saja dia bisa membuat bom," kata Tito.
JAD muncul sekitar 2015. JAD masuk dalam 21 kelompok pendukung ISIS bersama kelompok radikal lain seperti Majelis Mujahidin Indonesia Timur dan Mujahidin Indonesia Barat, Ikhwan Muahid Indonesi fil Jazirah al-Muluk, Khilafatul Muslimin dan lainnya.
Pada Januari 2017, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataan yang mengategorikan JAD sebagai kelompok di Indonesia yang paling mendukung ISIS. JAD juga disebut sebagai organisasi payung yang terdiri dari ratusan simpatisan ISIS yang berada di seluruh penjuru Indonesia.
Meski bukan tergolong jaringan yang eksis melakukan serangan teror, namun kenyataannya serangkaian aksi teror di Indonesia belakangan ini dilakoni simpatisan JAD. Sebut saja aksi bom Thamrin, bom di Polres Surakarta, penyerangan Mapolres Banyumas, bom panci di Cicendo Bandung, baku tembak di Tuban Jawa Timur, penyerangan Pospol Cikokol Banten, pengeboman Gereja Oikumene Samarinda, dan terbaru bom bunuh diri Kampung Melayu. JAD juga disebut-sebut pernah menyiapkan bom besar untuk Istana Negara, namun berhasil digagalkan.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya