Menguak sejarah pembentukan KNIL dalam catatan Prancis
Merdeka.com - Indonesia merdeka dari penjajahan pada tahun 1945 setelah melalui perjuangan yang cukup panjang. Namun, sejarah sebelum Indonesia merdeka dinilai masih belum lengkap dengan tidak adanya bukti tertulis. Banyak peristiwa penting yang terlupakan.
Buku dengan judul 'KNIL Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Prancis' yang diluncurkan di Gramedia Grand Indonesia dengan detail mengulas perjalanan sejarah operasi militer Belanda di Nusantara pada tahun 1830 hingga Indonesia merdeka. Buku yang ditulis Jean Rocher-Iwan Santosa ini menceritakan para prajurit bumiputra di KNIL yang menjadi bagian penting dari konsolidasi wilayah Nusantara sesudah era Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.
KNIL adalah singkatan dari Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger yang artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Diceritakan Iwan Santosa, KNIL dibentuk Belanda untuk mempertahankan keamanan di wilayah kekuasaannya. Pada saat itu, setiap kapal Belanda yang berlayar ke lautan wilayah penjajahan dari Afrika sampai Jepang dibekali dengan tentara. Hal itu mengantisipasi munculnya serangan dari pembajak laut.
Seiring perkembangan, KNIL kemudian dibentuk pada tahun 1830 usai terjadinya perang Diponegoro.
"Disadari, apa yang kita bicarakan ini harus dipertegas. Sebelum KNIL jadi, tentara Belanda sudah ada sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat "Koninklijk"," jelas Iwan Santosa saat berbincang dengan merdeka.com usai peluncuran buku KNIL.
Prajurit yang tergabung dalam KNIL ini tidak hanya tentara Belanda, melainkan berasal dari Perancis, Swiss dan negara-negara lain melalui proses perekrutan. Prajurit semula dijanjikan dengan upah hidup yang layak, meskipun setelah di Indonesia upah yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan. Tidak hanya tentara luar, belakangan banyak putra pribumi yang memilih bergabung dengan KNIL.
"Dari komposisi ras asal Nusantara yang dicatat C.A. Heshusius sebanyak 45 persen adalah orang Jawa dengan orang Sunda mencapai 5 persen yang pada tahun 1929, KNIL berkekuatan 37.000 prajurit. Lalu orang Manado (termasuk suku-suku Minahasa) sebanyak 15 persen, Ambon Lease mencakup pulau Nusa Laut, Haruku, Saparua dan wilayah Maluku Selatan sebanyak 12 persen, dan kelompok Timor yang mencakup penduduk Sabu dan Rote sebanyak 4 persen dari keseluruhan prajurit KNIL," terang dia.
Pasca Perang Dunia II, kata Iwan, KNIl menggelar dua operasi militer besar di tahun 1947 dan 1948 (Aksi Polisionil I dan II) yang disebut pihak Republik Indonesia sebagai Agresi Militer I dan II. Pasukan KNIL dan serdadu Ambon dituduh melakukan kekejaman perang selama Aksi Polisionil di Jawa dan Sumatera. Upaya Belanda berkuasa kembali di Koloni Hindia-Belanda gagal total dan Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.
"Pada tanggal 26 Januari 1950, beberapa unsur KNIL yang tergabung dalam Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) menggelar upaya kudeta yang gagal di bawah kepemimpinan Aymond Westerling dan Sultan Hamid Algadrie II," sambung dia.
Sesuai kesepakatan, pengakuan kedaulatan (Souvereinniteit Oversdracht) KNIL dibubarkan pada tanggal 26 Juli 1950 dengan pilihan bagi prajurit bumiputra untuk pensiun atau bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada saat pembubaran, KNIL memiliki 65.000 personel dengan 26.000 anggota yang bergabung ke dalam TNI, sisanya mengambil pensiun atau masuk ke dalam Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda dan bertugas di Papua. Beberapa di antara mereka terlibat dalam kontingen Belanda dalam Perang Korea (1950-1854).
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya