Mengintip dapur katering yang layani puluhan ribu jemaah haji
Merdeka.com - Sebanyak 70-an ribu dari 155 ribuan jemaah haji Indonesia Gelombang pertama mendarat di Madinah. Sementara untuk gelombang kedua akan langsung mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Selama di Madinah, para jemaah haji tersebut mendapatkan jatah makan dua kali sehari. Bagaimana melayani makan puluhan ribu jemaah haji tersebut?
Merdeka.com dan tim wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Daker Bandara mampir ke salah satu perusahaan katering yang setiap harinya melayani sekitar 16 ribu porsi makan jemaah haji, Al Ahmadi Catering. 8 Ribu untuk makan siang, dan 8 ribu porsi untuk makan malam. Sebuah bangunan luas di atas tanah seluas 4.800 meter persegi, yang sebagian besar berupa dapur dengan alat-alat masak raksasa.
"Kita di sini mempekerjakan 250 orang, 54 orang bagian packing, di hotel ada 40 orang, sisanya ya di sini (dapur)," kata Manajer Al Ahmadi Catering, Muhammad Hasyim Yahya saat ditemui di Al Ahmadi Catering, Kamis (18/8).
Untuk menu, Hasyim mengaku semuanya ditentukan oleh PPIH Arab Saudi. Dia menuturkan, untuk melayani katering jemaah haji Indonesia tidak mudah. Standar tinggi harus diterapkan, karena selain ada pengawasan yang ketat saat produksi dari PPIH Arab Saudi, bahan baku juga harus sesuai standar yang ditentukan.
"Misalnya bahan baku harus sesuai standar. Beras, ikan, dan daging yang di-freezer jangan lebih dari 3 buan expire," papar pria asal Surabaya, Jawa Timur tersebut.
Pun saat masak, kebersihan harus dijaga. Baik kebersihan dapur atau pun peralatan-peralatan yang digunakan untuk memasak.
Dia menambahkan, selama musim haji tahun ini, lebih dari 300 ribu porsi katering dipesan oleh PPIH Arab Saudi untuk melayani jemaah haji. Di luar musim haji, pesanan juga terus mengalir untuk melayani jemaah umroh yang menginap di hotel-hotel berbintang.
Menurutnya, Al Ahmadi Catering sebagian besar bercita rasa Indonesia karena kebanyakan memang untuk melayani jemaah Indonesia. Namun demikian, jemaah haji dari Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam juga menggunakan jasa katering yang dia kelola tersebut.
"Kita juga ada chef dari Malaysia, karena orang Malaysia seleranya beda dengan kita, misalnya mereka lebih suka rasa yang agak hambar," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Chef Al Ahmadi Katering, Ahmad, mengatakan dalam memasak, dirinya dibantu oleh beberapa juru masak yang semuanya berasal dari Indonesia. Untuk menjaga rasa, dirinya terjun langsung ikut memasak bersama para koki.
"Kan membuat porsi banyak, untuk ribuan orang. Jadi harus terjun langsung," kata pria asal Sleman, Yogyakarta ini.

Katering jemaah haji ©2016 Merdeka.com
Kasi Katering PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Madinah, Ahmad Abdullah Yunus mengatakan, PPIH Arab Saudi tahun ini menggandeng 11 perusahaan katering di Madinah, dan 24 di Makkah. Perusahaan ini melalui proses pemilihan yang ketat. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan perjanjian, tidak segan-segan ditegur atau diputus kontraknya.
"Jadi saya di sini kerjaannya marah-marah, kalau ada yang tidak beres. Kalau saya marah memang itu tugas saya. Daripada saya diam saja terus mengeluarkan surat (pemutusan kontrak), kan lebih baik marah-marah," kata Abdullah Yunus.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya