Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenang Samurai Jepang terakhir pembela kemerdekaan Indonesia

Mengenang Samurai Jepang terakhir pembela kemerdekaan Indonesia Rahmat Shigeru Ono. ©repro dok keluarga

Merdeka.com - Hari sudah menginjak senja di Kota Batu, Jawa Timur. Sebuah patung besar pejuang tegak berdiri di depan Komplek Makam Pahlawan. Tegak menantang merobek bendera merah putih biru.

Makam di Komplek Pemakaman Pahlawan itu masih baru. Belum disemen dan diberi helm baja seperti umumnya makam pahlawan.

Nama Rahmat S Ono tertulis di nisan. Lahir di Hokaido 26 September 1918 dan meninggal di Batu 25 Agustus 2014. Rahmat Shigeru Ono. Tentara Jepang yang menyeberang ke pihak Republik Indonesia dan berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ada sekitar 1.000 tentara Jepang yang berperang di pihak Republik. Rahmat Ono adalah yang terakhir.

Sang samurai merasa harus menepati janjinya membela kemerdekaan Indonesia karena Kaisar Jepang pernah berjanji memberi kemerdekaan dan membebaskan Indonesia dari penjajahan Bangsa Barat.

"Papi dimakamkan dengan upacara kehormatan militer. Lengkap dengan tembakan salvo," kata Agoes Soetikno (56), putra ketiga Rahmat Shigeru Ono. Dia mengantarkan merdeka.com berziarah, Jumat (29/8) lalu.

Rahmat Shigeru Ono memilih berjuang dan tinggal di Indonesia hingga akhir hayatnya. Dia kehilangan lengan kirinya saat mengutak-atik pelontar granat semasa perang kemerdekaan.

Rahmat menikahi wanita asal Batu bernama Darkasih. Dia memiliki sembilan orang anak, namun empat di antaranya meninggal dunia. Kini sudah ada 14 cucu dan 10 cicit.

Rahmat Ono juga memeluk Islam. Setelah merdeka, mantan sersan Rikugun ini keluar dari dinas kemiliteran dan menjadi petani apel. Dia ingin tak cuma menanam Apel, tetapi mengolahnya menjadi penganan lain hingga laku dijual.

Tak sulit menemukan rumah Rahmat Shigeru Ono. Tanya saja pada orang-orang di Kota Batu. Mereka mengenalnya sebagai Rahmat Jepang.

"Papi memang bersosialisasi dengan bagus dengan tetangga dan masyarakat," kata Agoes.

Saat merdeka.com mengunjungi rumah Rahmat Ono, suasana duka masih terasa. Karpet masih digelar. Baru lima hari Rahmat Ono meninggal dunia. Ada beberapa karangan bunga terpasang di halaman.

Foto hitam putih tergantung di dinding. Seorang pemuda Jepang dengan baju militer bertumpu pada pedang samurai. Itu foto Rahmat Ono tahun 1943, saat menjadi sersan di Bandung.

Putra-putri Rahmat Ono, Asko Sulikah, Eru Suyono dan Erlik Suyono menyambut. Mereka menceritakan kisah hidup ayah mereka.

"Yang paling sering diceritakan Papi adalah saat Papi melawan tentara Belanda dengan pedang samurai. Papi cuma berdua, tentara Belanda yang tewas dua puluhan," kata Erlik.

Bagaimana kisah hidup sang samurai terakhir di Indonesia ini. Simak tulisan berseri merdeka.com soal Rahmat Shigeru Ono hari ini. Semoga kisahnya menginspirasi para penerus kemerdekaan.

(mdk/ian)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP