Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Imunomodulator Herbal Untuk Penanganan Covid-19 yang Siap Diverifikasi BPOM

Mengenal Imunomodulator Herbal Untuk Penanganan Covid-19 yang Siap Diverifikasi BPOM manfaat jahe merah. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah lembaga melakukan uji klinis Imunomodulator herbal dari Biodiversitas Indonesia untuk penanganan Covid-19. Proses uji klinis sudah rampung dan siap diajukan ke Badan Pengawas Obat daj Makanan (BPOM) untuk diverifikasi.

Perlu diketahui, Imunomodulator Herbal merupakan hasil kerjasama para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan tim tenaga kesehatan RSDC Wisma Atlet Kemayoran.

Imunomodulator herbal merupakan obat peningkat kekebalan tubuh yang terbuat dari kombinasi tanaman herbal asli Indonesia, seperti Jahe Merah, Sambiloto, Meniran, Sembung, dan Cordyaceps yang ditunjukan bagi pasien pneumonia ringan Covid-19.

Ketua Tim Uji Klinis Imunomodulator sekaligus peneliti LIPI, Masteria Yunovilsa Putra, menjelaskan penelitian Imunomodulator ini telah dijalankan sejak 8 Juni 2020 lalu. Kemudian uji coba tahap pertama pada 10 Juni dan uji coba tahap akhir pada 15 Agustus kemarin.

"Sampai tanggal 15 Agustus kemarin subjek terakhir untuk terapi ini. Selama itu kita sudah lakukan terhadap 153 pasien yang kita skrining dan menemukan 90 subyek itu dilakukan terapi. Tetapi 61 pasien gagal skrining, karena berdasarkan hasil dari tes PCR yang memang negatif atau tidak sesuai dengan kriteria serta 2 pasien tak memenuhi inklusi," ujar Masteria dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan LIPI, Senin (17/8).

Masteria menambahkan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan dokumen-dokumen yang nanti akan dikirim ke BPOM.

"Ini paling penting, kami tidak akan pernah melaporkan apapun hasil lebih lanjutnya, sebelum BPOM sebagai regulator di Indonesia menyatakan Imunomodulator ini teruji. Maka kami tidak akan pernah mengklaim apapun, kecuali telah lulus uji BPOM," tuturnya

Dia menargetkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk proses verifikasi BPOM ini akan rampung disusun dalam dua sampai tiga pekan ke depan.

"Jadi tunggu hasil dari BPOM selaku penyedia regulator agar semuanya terbukti yang jelas karena kita tidak ingin klaim sebelum BPOM mengesahkannya. Biar secara regulatornya saja yang mengumumkan," jelasnya.

Apapun hasil uji verifikasi dari BPOM nantinya, sambung Masteria, dia bersama timnya akan menerima. Apakah Imunomodulator buatan mereka lulus uji atau tidak. Menurutnya, yang terpenting adalah usaha memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara.

"Jadi kami dari awal tidak mengatakan apa, jadi kita tunggu hasil analisa dari BPOM. Kami telah berusaha selama dua bulan ini dan selesai bertepatan hari kemerdekaan ini. Jadi capaian yang luar biasa. Kalau boleh jujur ini adalah pertama kali kami lakukan ujian klinis, kami modal semangat, dan kami percaya hasil kerja keras ini akan berbuah hasil yang terbaik. Apapun hasilnya akan kami terima demi merah putih," pungkasnya.

Tahapan Penelitian Imunomodulator Herbal Biodiversitas Indonesia

Perlu diketahui, dalam melakukan pengujian Imunomodulator, kriteria subyek penelitian adalah pasien positif Covid-19 baru yang sudah dikonfirmasi melalui Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan bergejala pneumonia ringan. Subyek tidak dalam kondisi hamil atau menderita penyakit lain seperti DBD, demam tifus, gangguan jantung, gangguan ginjal, maupun alergi terhadap produk yang diujikan.

Riset menggunakan sistem blinding acak dan tersamar ganda sehingga subyek maupun peneliti tidak mengetahui apakah yang diberikan pada subyek adalah salah satu dari produk yang diujikan atau plasebo.

"Metode uji klinis kandidat Imunomudolator dilakukan secara acak terkontrol tersamar ganda dengan plasebo untuk menghindari terjadinya bias pada penelitian," jelas Masteria pada Minggu (16/8) kemarin.

Ada dua produk uji dan satu plasebo yang diberi secara acak dan merata pada 90 subyek uji yang dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama mendapat terapi standar Covid-19 dan IP1, kelompok dua mendapat terapi standar Covid-19 dan IP2, dan kelompok kontrol mendapat terapi standar Covid-19 dan plasebo.

Tujuan utama uji klinis adalah untuk melihat apakah waktu yang diperlukan untuk mencapai perbaikan gejala klinis non-spesifik menjadi lebih pendek durasinya.

"Uji klinis juga ditujukan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai hasil RT-PCR negatif setelah adanya perbaikan gejala klinis," kata Masteria.

Perbedaan Imunomodulator, Obat, dan Vaksin

Dalam kesempatan yang sama, Masteria, menjelaskan perbedaan secara sederhana terkait Imunomodulator, vaksin, dan obat. Dia menjelaskan bahwa Imunomodulator suatu yang bertujuan meningkatkan imun tubuh manusia.

"Nah kalau obat itu kan sebagai antivirus dia itu menghambat pertumbuhan virus ya. Kalau vaksin itu meningkatkan kekebalan tubuh kita dengan menggunakan antigen virus tersebut, jadi membuat sistem antibodi secara spesifik tahan terhadap virus tertentu," terangnya.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP