Mengapa polisi masih pakai tembakan hadapi demonstran?
Merdeka.com - Kekerasan terhadap jurnalis yang bertugas di lapangan kembali terjadi. Kali ini dialami dua orang wartawan di Jambi dan Ternate.
Kedua wartawan ini mengalami luka karena terkena peluru dari polisi yang mengamankan demonstrasi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Roby Kelerey, jurnalis harian Mata Publik tertembak di bagian paha kiri dan Anton, jurnalis Trans7 mengalami luka di pelipis mata kiri.
Atas hal itu, Koordinator Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyayangkan peristiwa yang telah terjadi. Neta menilai polisi masih menggunakan langkah-langkah represif yang seharusnya sudah ditinggalkan dalam mengamankan berjalannya demonstrasi.
"Kami menyayangkan sikap polisi (melakukan penembakan), kenapa tindakan represif itu masih dilakukan oleh polisi. Padahal demo ini dalam rangka memperjuangkan kepentingan polisi juga," ujar Neta kepada merdeka.com, Senin (17/8).
Neta mengatakan, tindakan penembakan yang dilakukan mencerminkan polisi bukan sebagai aparat negara yang harus melindungi rakyat. "Ini memperlihatkan polisi merupakan aparat kekuasaan," kata dia.
Selanjutnya, Neta mengatakan, polisi telah bertindak di luar prosedur dengan melakukan penembakan itu meskipun menggunakan peluru karet. Menurut dia, polisi harus menempuh jalur dialog terlebih dulu dan menggunakan fasilitas pengamanan demonstrasi yang lengkap.
"Kita lihat di Jambi itu tidak ada water canon. Artinya, penanganan aksi dilakukan dengan sangat tidak profesional," terang Neta.
Lebih lanjut, Neta menuding Kapolda Jambi dan Maluku Utara terlibat dalam penembakan itu. Indikasinya, Kapolda tidak memberikan instruksi kepada bawahannya jika demonstrasi harus ditangani dengan cara damai.
"Kapolda Jambi dan Maluku Utara tidak menyadarkan bawahannya," pungkas Neta. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya