Menenun kain Lawon untuk menjaga tradisi
Merdeka.com - Ghalibnya orang meninggal, saat akan dikebumikan biasanya akan dibungkus kain mori atau kafan. Hal ini berbeda dengan kebiasaan masyarakat Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Saat kerabatnya meninggal, mereka akan dibungkus dengan kain khas yang hanya ada di desa mereka. Namanya kain Lawon.
Untuk mencapai desa tersebut tidak terlalu sulit. Dari Kota Purwokerto untuk mencapai desa tersebut hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Letak desa itu sendiri berada di sebelah selatan Purwokerto sebelum Cilacap.
Jika ingin sampai ke desa tersebut, kata kuncinya adalah rumah Kyai Kunci. Dia adalah ‘raja’ atau ketua adat masyarakat setempat. Saat datang ke tempat itu, biasanya langsung disambut oleh Kiai Kunci yang mempunyai nama asli Kartasari.
Dengan dialek Banyumasan yang kental, Kiai Kunci menceritakan tentang kepercayaan Bonokeling. Termasuk penggunaan lawon sebagai salah satu media upacara adat.
Ditemani istrinya yang juga pengrajin lawon, Kiai Kunci menceritakan tentang filosofi penggunaan lawon dalam upacara adat. "Lawon itu merupakan simbol kesucian masyarakat adat sini," ujar kakek enam cucu ini.
Penggunaan kain lawon ini erat kaitannya dengan kepercayaan mereka. Sebagai penganut kepercayaan Bonokeling, termasuk aliran kejawen, lawon adalah harga mati untuk pembungkus mayat.
Lawon sendiri keberadaannya hanya ada di desa tersebut. Termasuk perajinnya yang saat ini tinggal 12 perajin. Semuanya perajinnya adalah perempuan.
Kain tersebut merupakan elemen terpenting dalam upacara adat untuk membungkus jenazah. Masyarakat setempat percaya, jika tidak menggunakan lawon maka keluarganya akan terkena musibah.
Nyai Kartasari, istri Kyai Kunci mengatakan penggunaan kain lawon merupakan lelaku turun-temurun moyang mereka. “Seperti sudah keyakinan turun temurun,” ujarnya.
Dari generasinya, kini pengrajin lawon hanya tinggal 3 orang. Dia sendiri, Nawirya dan Asma Arlem, rata-rata umurnya sudah menginjak 70 tahunan. Sisanya adalah pengrajin generasi baru yang usianya baru 30 tahunan.
Meski sudah lanjut, Nawirya (70) masih lancar untuk menjelaskan proses pembuatan kain lawon. Ia sendiri mengaku sudah 12 tahun menekuni pekerjaan tersebut.
Di beranda depan, Nawirya tiap harinya menenun kain lawon. Umumnya para pengrajin lawon memang menggunakan beranda rumahnya untuk ruang kerjanya. Semua alat untuk membuat lawon ditempatkan di tempat tersebut. Alatnya masih sangat sederhana.
Ada 8 bagian alat tenun yang digunakan untuk merajut benang hingga menjadi selembar kain. Bagian pertama untuk menyangga alat tenun di bagian pinggang dinamakan por. Bagian ini berfungsi untuk menahan gerakan alat tenun agar tetap pada komposisinya.
Selanjutnya ada bagian yang bernama pengapit, babak, cacak, glondong, welira, suri dan incing. Semua bagian punya fungsi masing-masing. Dari semua bagian, suri adalah bagian terpenting. Alat ini digunakan untuk meletakkan benang satu demi satu.
"Proses memilin benang satu demi satu untuk dimasukkan suri namanya kulakan," ujar Nawirya.
Benang yang siap ditenun pun masih harus mendapatkan perlakuan khusus. Benangnya pun harus menggunakan kapas khusus yang dinamakan Jantra. Selain kapas tersebut, tidak diperbolehkan.
Awalnya kapas tersebut harus dipintal. Lalu dirapikan ke dalam sebuah alat yang bernama lawe. Selanjutnya benang lawe tersebut harus dilumuri dengan nasi bubur. Prosesnya dinamakan disekul.
Setelah disekul, untaian benang tersebut akan disikat untuk menghaluskan benang. Agar benang bisa lebih kuat, selanjutnya benang tersebut harus dijemur selama 2 hari.
"Pokoknya sampai benar-benar kering agar tidak mudah putus," terang Nawirya.
Untuk siap ditenun menjadi kain, benang tersebut masih harus dikulak dan dipani. Setidaknya butuh waktu satu minggu untuk memproses benang hingga siap di tenun.
Untuk menenun selembar kain, biasanya butuh waktu 6 hari. Itu pun dikerjakan sepanjang hari. Biasanya para penenun akan mulai menenun pada pukul 09.00 WIB hingga tengah hari. Lalu dilanjutkan pukul 13.00 WIB hingga senja menjemput.
Saat menenun kadang-kadang benangnya ada yang terputus. Untuk menyambungnya pun ada caranya tersendiri, namanya ngepung.
Para pengrajin kain lawon ini mempunyai pantangan tersendiri saat menenun. Jika ada kerabatnya yang meninggal, mereka pantang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. “Meskipun ini pekerjaan yang ada hubungannya dengan orang mati, tapi kalau ada orang mati, kami dilarang membuat lawon,” tukas Nawirya.
Kain lawon yang sudah jadi mempunyai ukuran panjang 3 meter dengan lebar 1 meter. Satu lembar kain tersebut di pasaran harganya Rp 120 ribu. Tapi kalau di pengepul harganya bisa lebih mahal lagi.
Karsilem, penenun yang lain mengatakan pembeli kain lawon tidak hanya berasal dari kampungnya saja. Pembelinya juga ada yang datang dari Cilacap, Purbalingga, Kroya dan daerah lain yang ada penganut kepercayaan Bonokeling.
"Pekerjaan ini memang bukan untuk mencari keuntungan, tapi hanya sekedar melestarikan tradisi," ujar Karsilem.
Selain cara pembuatannya yang unik, pemakaian kain lawon juga terbilang berbeda dari biasanya. Setiap satu orang meninggal, membutuhkan 9 atau 11 kain lawon. "Tergantung kemampuan keluarganya," ujar Catem, pengrajin yang lain.
Menurut Catem, keluarga yang ditinggalkan wajib menyumbang kain lawon yang akan digunakan untuk membungkus jenazah. "Banyak sedikitnya kain lawon yang disumbangkan tergantung kemampuan keluarga tersebut," terang Catem.
Bagi Nyai Mejasari, Nawirya, Karsilem maupun Catem menenun adalah laku hidup. Mereka menenun tidak hanya untuk mencari sesuap nasi, tapi mengabdi kepada sebuah kepercayaan. Kepercayaan Bonokeling. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya