Menelusuri pinggiran di jantung Borneo
Merdeka.com - Jarum jam menunjukkan pukul 12.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), atau 1 jam lebih cepat dari waktu di Jakarta.â Cuaca cukup terik, sampai-sampai pakaian tak mampu menghalangi sinar matahari menusuk pori-pori kulit.
Perjalanan untuk menyusuri jantung Borneo di mulai dari Kantor World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia di Kecamatan Barong Tongkok (Bangkok), Kabupaten Kutai Barat, pekan lalu.
Pemandangan sepanjang perjalanan begitu kontras.â Jalanan begitu luwes, tidak ada hingar bingar layaknya ibu kota, tidak ada kepadatan mobil yang menyebabkan kemacetan yang mengekor ribuan meter, cukup untuk melakukan Car Free Day setiap hari. Hanya sepeda motor yang sering melintasi jalanan.

Sedihnya, tidak ada angkutan umum di sini. Sebagai wilayah pemekaran, perekonomian dan infrastruktur Kutai Barat terbilang masih rendah kendati memiliki potensi di tanaman Sawit, Karet dan tambang Batubara. Hal ini menyebabkan pengusaha masih enggan membuka bisnis transportasi umum.
Namunâ demikian, tidak ada pemandangan masif anak sekolah berjalan kaki atau menempuh jalur rumit untuk menuju tempat mereka menjalani pendidikan.
Di tengah perjalanan, kami mampir sejenak menuju salah satu rumah makan. Angan-angan untuk menikmati menu khas Kutai âBarat harus kandas. Rumah makan Jawa begitu dominan dibanding warung makan khas setempat, penjualnya pun transmigran dari pulau Jawa. Kalaupun ada, menunya normatif seperti di warung lainnya.
Perjalanan kami lanjutkan usai perut terisi. âDeretan rumah panggung menghiasi pemandangan mata selama perjalanan yang ditempuh selama 1 jam 30 menit. Tak ada kendala berarti selama perjalanan, semua jalan sudah teraspal rapi. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya