Mendikbud-Ristek: 25 Persen Sekolah Sudah Melaksanakan Belajar Tatap Muka
Merdeka.com - Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim menyatakan pembelajaran tatap muka di sekolah tidak bisa ditunda lagi demi menyelamatkan pembelajaran dan kesehatan mental murid. Saat ini, sebanyak 25 persen sekolah sudah membuka sekolah tatap muka.
“Sudah terlalu lama saat ini proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terjadi. Dan kita tidak bisa menunggu lagi dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental murid-murid kita. Pada saat ini mungkin enggak banyak orang tahu, tapi sebenarnya 25 persen dari sekolah kita sudah melaksanakan tatap muka," kata Nadiem dalam acara Live Talkshow Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021 yang digelar PDIP, Rabu (5/5).
Menteri Nadiem menjelaskan evaluasi atas pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan sejak pandemi covid-19. Pertama ada masalah konektivitas sinyal dan siswa yang tidak punya gawai.
"Padahal, yang seperti ini adalah fundamental untuk pelaksanaan PJJ. Sehingga, pelaksanaan PJJ pun di berbagai daerah sangat sulit dilakukan," imbuhnya.
Kedua, lanjut Nadiem, adalah dampak kepada psikososial kepada siswa. Banyak sekali anak yang mengalami kebosanan di dalam rumah akibat banyaknya video conference yang dilakukan.
Pihaknya mengevaluasi bahwa kondisi belajar tidak dinamis; "Siswa kesepian dan mengalami depresi karena tidak bertemu dengan teman-teman dan gurunya," ujar dia.
Ditambah berbagai masalah lain, mulai dari stres yang disebabkan terlalu banyak berinteraksi di rumah dan kurang ke luar. Nadiem mengaku pihaknya juga menerima laporan siswa yang mengalami berbagai macam kekerasan domestik selama di rumah.
"Ini juga terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Juga peningkatan level stres daripada orang tua. Yang dengan kesibukannya juga harus membantu membimbing anaknya dalam proses pembelajaran jarak jauh," urainya.
Atas faktor di atas, pemerintah membuat penilaian bahwa PJJ tidak optimal. Khususnya di wilayah pelosok dan terluar yang infrastruktur teknologinya kurang memadai.
"Kita tidak bisa menunggu lagi dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental daripada murid-murid kita," tegas Nadiem.
Oleh sebab itu, Kemendikbud-Ristek membuka sekolah tatap muka secara perlahan. Selain pembahatasan kapasitas, kegiatan yang dilakukan hanya pembelajaran saja tanpa ada ekstrakurikuler ataupun makan di kantin.
“Tidak ada aktivitas di luar pembelajaran sendiri. Jadinya masuk sekolah tidak ada ekskul, tdiak ada kantin. Masuk sekolah dan langsung pulang. Setengah daripada kapasitas kelasnya itu tidak bisa di satu ruangan di saat yang sama. Jadi semua sekolah untuk melakukan tatap muka harus melakukan proses rotasi,” jelasnya.
Meski mewajibkan sekolah membuka opsi sekolah tatap muka, Nadiem mengingatkan bahwa keputusan apakah murid bisa ke sekolah tetap berada di tangan orang tua.
Ia mengingatkan bahwa sektor lain seperti wisata sudah dibuka, maka memang sudah saatnya sekolah ikut dibuka perlahan.
“Sektor lain sudah terbuka, kita sudah melihat anak di mal, sinema sudah terbuka, tempat kerja susah buka. Mengapa anak anak kita masih belum kembali ke sekolah? Ini adalah kebijakan yang menjawab tantangan tersebut, bahwa kita tidak bisa menciptakan satu generasi yang mengalami learning loss,” terang Nadiem.
Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira mengatakan pihaknya mengapresiasi Pemerintah yang sudah melakukan evaluasi dan memahami permasalahan yang terjadi. Mau tak mau, harus diakui bahwa di era pandemi maupun new normal, faktor teknologi informasi sangat menentukan sukses atau tidaknya proses pendidikan.
Selain itu, para guru juga harus disiapkan baik dari segi vaksinasi maupun prosedur lainnya. Sehingga Sekolah harus sudah memulai opsi pendidikan tatap muka dengan segala situasinya.
"Akan tetapi, yang kita penting untuk garis bawahi adalah keputusan tetap ada pada orang tua murid dan siswa, apakah akan melakukan PJJ atau sekolah tatap muka," kata Andreas.
Reporter: Delvira Hutabarat
(mdk/ray)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya