Menara Saidah, kisah kejayaan yang singkat

Reporter : Yacob Billi Octa | Jumat, 25 Mei 2012 06:33




Menara Saidah, kisah kejayaan yang singkat

Merdeka.com - Lebih dari 5 tahun setelah tidak difungsikan, gedung perkantoran Menara Saidah kondisinya tidak lagi terawat. Beberapa lampu taman pecah, kaca gedung pudar tidak lagi berkilap, cat dinding sudah banyak yang mengelupas, bahkan ketika malam hari, tidak terlihat satupun lampu yang berpijar dari dalam gedung.

Padahal, gedung tertinggi di kawasan Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan itu, dulunya pusat perkantoran yang bergengsi dan banyak diminati oleh para pebisnis.

Tercatat beberapa perusahaan besar pernah berkantor disitu. Bahkan Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia atau sekarang berubah nama Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal juga pernah berkantor di lantai 18 Menara Saidah.

Tidak hanya itu, bintang film terkemuka waktu itu, Inneke Koesherawati juga melangsungkan pernikahannya dengan salah satu keluarga Saidah, Fahmi Darmawansyah di gedung tersebut.

"Sekarang sudah kosong mas, gak tau kenapa, gak ada lagi yang nyewa gedung itu," kata seorang penjaga yang enggan disebut namanya kepada merdeka.com, Kamis (24/5).

Dia menuturkan, awalnya, menara bergaya romawi itu bernama Gedung Grancindo. Didirikan jauh sebelum krisis moneter 1998 terjadi. Kemudian pemilik gedung mengalami kebangkrutan sehingga menjual gedung kepada Saidah Abu Bakar Ibrahim.

Kemudian, Saidah melakukan renovasi besar-besaran, termasuk menambah jumlah lantai dari 15 menjadi 28 lantai. Terakhir mengganti nama gedung sesuai dengan namanya, Menara Saidah.

Hingga dalam perkembangannya, Menara Saidah dikelola oleh beberapa perusahaan berbeda namun masih di dalam Merial Group. Diantaranya PT Merial Esa, PT Merial Medika, dan Dewa.com.

Namun, kejayaan Menara Saidah tidak berjalan cukup lama. Masa keemasan bisnis penyewaan gedung perkantoran ini hanya bertahan enam tahun. Satu per satu penyewa kemudian meninggalkan Menara Saidah.

Dari sini, spekulasi bangkrutnya Menara Saidah mulai bermunculan. Mulai dari pondasi bangunan miring, permasalahan lift lambat, hingga tidak sinerginya antar pengelola gedung.

"Awalnya pemakai gedung sudah komplain kepada manajemen tentang lift yang lambat, namun tidak pernah ditanggapi, akhirnya pada keluar," ujar penjaga gedung yang lain.

Selain itu, banyaknya pihak yang ikut mengelola gedung, juga menambah sebab kebangkrutan Menara Saidah. "Kakak adiknya juga ikut mengelola, jadinya harga sewanya pasang tarif setinggi mungkin," terangnya.

[bal]

KUMPULAN BERITA
# Menara Saidah

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Jokowi: Golkar kok dikaitkan dengan lumpur, beda dong
  • Hamil enam bulan, Duma Riris doyan ngemil beras mentah
  • Biasa Lebaran di Mekkah, kali ini Dahlan pilih di rumah
  • Mayat bayi laki-laki ditemukan di Sungai Kalimalang
  • Pengunjung TMII meningkat tajam, diprediksi tembus 40 ribu orang
  • Wisata ke Pulau Seribu melonjak, sembilan kapal cepat disiagakan
  • Sepupu presiden Afghanistan tewas akibat serangan bom bunuh diri
  • Masuk kandidat menkes, Ribka Tjiptaning tepis rumor bukan dokter
  • Ekonom nilai pemerintah sukses jaga stabilitas harga
  • Jokowi-JK akan blusukan dari Sabang sampai Merauke
  • SHOW MORE