Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menangkal upaya memecah belah bangsa dengan kearifan lokal

Menangkal upaya memecah belah bangsa dengan kearifan lokal foto ilustrasi. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Kemajuan teknologi informasi memudahkan masuknya ideologi-ideologi yang dapat memecah belah keutuhan bangsa. Sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan sudah seharusnya menggunakan kearifan lokal untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

"Kalau bangsa itu punya identitas yang kuat, kalau ada tawaran-tawan ideologi dari luar yang akan memecah belah persatuan Indonesia, tentu itu tidak akan bertahan lama. Kita punya struktur, kita punya ketahanan menyangkut identitas jati diri bangsa, yakni budaya kearifan lokal yang banyak sekali," ujar Anggota Kelompok Ahli BNPT Hamdi Muluk dalam keterangannya, Rabu (14/3).

Dikatakan pria yang juga ahli psikologi politik ini, selama ini dengan banyaknya kearifan lokal yang dimiliki, masyarakat Indonesia sudah lama berinteraksi dan sudah merasa satu dengan macam-macam perbedaan paham, kebiasaan, serta adat istiadat.

"Kita saling menghormati dan kita juga bisa mengamalkan nilai-nilai agama sesuai dengan konteks ke Indonesiaan yang sudah terjaga dengan baik. Itu harus dipertahankan," ujar Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini.

Dalam konteks kekinian, lanjut Hamdi, adanya paham-paham keagamaan yang menyerukan ke arah radikalisme, memecah persatuan, kebhinekaan, saling menyalahkan serta mengkafirkan satu sama lain, hal tersebut tentunya harus bisa dicegah.

"Kita memang harus memperkuat apa yang kita punya. Jadi dalam konteks ini kearifan lokal bisa kita kembangkan sedemikian rupa. Dan itu menjadi daya tahan kita dalam menangkal paham dari luar yang akan memecah belah bangsa kita," tuturnya.

Menurutnya, sekarang banyak orang yang coba untuk disesatkan dengan mengacaukan seperti masalah kebiasaan dalam kebudayaan tertentu. "Kita di sini juga begitu, bahwa kita menerapkan, mengimplementasikan nilai-nilai itu dengan cara kita sesuai dengan latar belakang budaya yang beragam," jelasnya.

Dirinya melihat bahwa sekarang ini yang dipertentangkan kebanyakan adalah hal remeh-temeh. Namun itu malah digembar-gemborkan bahwa ini tidak mencerminkan Islam dan sebagainya.

"Islam itu universal, jadi tidak perlu dibentur-benturkan. Apalagi orang menakut-nakuti dengan tadi, bahwa kalau tidak seperti ini kafir lah. Hal seperti ini lah yang harus kita cegah."

Dirinya meminta kepada masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar sehingga harus meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki. Masyarakat harus kembali kepada jati diri bangsa kita.

"Karena tidak mungkin kita berada dalam 'proyek' Indonesia kalau kita tidak kuat. Tapi pada kenyataannya sudah 72 tahun kita ini merdeka dan kita tetap survive dan tidak terpecah belah," pungkasnya.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP