Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menakar peluang Khofifah di Pilgub Jatim 2018

Menakar peluang Khofifah di Pilgub Jatim 2018 Jalan sehat jelang hari pahlawan. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Meski dua kali merasakan kekalahan bertarung di Pilgub Jatim tahun 2008 dan 2013, Khofifah Indar Parawansa nampaknya tak kapok untuk kembali maju. Perempuan asli Surabaya itu memberi sinyal bakal berlaga di Pilgub Jatim 2018.

"Pokoknya sekarang check sound dulu. Tunggu kabar berikutnya saja," kata Khofifah dalam sebuah acara di Sleman, Sabtu (22/4).

Menteri Sosial tersebut tak ingin buru-buru mengambil keputusan. Dia meminta masukan dari masyarakat dan ulama.

Berdasarkan hasil survei The Initiative Institute, peluang Khofifah dari segi popularitas dan elektabilitas tertinggi kedua setelah Wagub Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Dia bahkan mengalahkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi mencatat, meski Gus Ipul berada paling atas, namun itu belum menjamin bakal mudah memenangkan Pilgub Jatim.

Buktinya, responden yang memilih Gus Ipul sebagai calon gubernur ternyata lebih rendah dibanding sebagai calon wakil gubernur.

"Itu artinya, untuk posisi gubernur, Gus Ipul minus 1,73 persen. Kalah dari Risma yang plus 4,57 persen dan Khofifah plus 7,21 persen. Jika ingin mempertahankan elektabilitasnya sebagai calon gubernur, maka Gus Ipul harus bisa mengubah mindset-nya mulai sekarang," kata Airlangga di Surabaya kemarin.

Hasil survei menunjukkan popularitas Gus Ipul mencapai 82,8 persen dan elektabilitasnya tembus angka 33,2 persen. Sementara Khofifah menyusul dengan 81,4 persen (popularitas) dan 28,3 persen (elektabilitas). Risma 75,4 persen (popularitas) dan 26,1 persen (elektabilitas).

Sementara untuk dukungan menjadi calon gubernur, Gus Ipul mendapat 33,17 persen suara dari responden. Sedangkan dukungan sebagai calon wakil gubenur, suaranya lebih tinggi. Yaitu mencapai 34,90 persen.

Posisi dukungan Gus Ipul ini kalah dari Risma, yaitu 26,13 perasen sebagai calon gubernur dan 21,50 persen (calon wakil gubernur). Sementara Khofifah, mendapat dukungan 28,31 persen sebagai calon gubernur dan 21,10 persen (calon wakil gubernur).

"Hasil ini menunjukkan, responden dukungan kepada Khofifah dan Risma sebagai gubernur lebih tinggi dibandingkan sebagai wakil gubernur," tandas Angga.

Survei yang dilakukan The Initiative ini dilakukan dari bulan Januari sampai Maret. Menggunakan metode tanya jawab langsung kepada 950 responden, dengan usia 17 tahun ke atas. Para responden itu, berasal dari 99 desa/kelurahan di 11 daerah pemilihan. The Initiative tidak mencantumkan margin of error survei.

Di luar survei, Khofifah juga dilirik PDIP. Khofifah masuk dalam radar PDIP bersama sejumlah kader internal berpotensi seperti Risma dan Bambang DH.

"Haduh jangankan sekelas Bu Khofifah, kalau enggak masuk berarti radarnya sudah ketinggalan zaman dan tumpul. Radarnya sudah karatan," kata Politikus PDIP Hendrawan Pratikno di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (21/4).

Partai Amanat Nasional (PAN) juga memiliki keinginan sama. Khofifah dianggap srikandi visioner, sekaligus memiliki wawasan kebangsaan maupun kepedulian tinggi terhadap masyarakat.

"Oleh karena itu, tadi kita dorong ya ibu Khofifah kalau berani untuk maju menjadi Jatim 1 (satu) kan gitu," kata Ketum PAN Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (27/3).

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP