Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menabung ala pemulung

Menabung ala pemulung Menabung ala pemulung. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Budaya menabung saat ini mulai jarang dilakukan. Apalagi oleh masyarakat golongan menengah ke bawah yang terhimpit beban kehidupan sehari-hari. Uang yang mereka dapatkan dari hasil bekerja, kebanyakan ludes untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Bagi juragan rosok, Samad dan istrinya, Nani Widiastuti, menabung adalah keharusan. Tak hanya untuk dirinya, tapi juga karyawan dan pemulung yang memasok barang rosok kepadanya. Setiap hari, Samad menerima barang dari sekitar 250 pemulung. Dia sendiri mempekerjakan 40 orang.

"Tabungan ini ada sejak tiga tahun terakhir, setelah banyak pemulung yang mengeluh uangnya hilang. Mereka kebanyakan hidup di jalan, jadi rawan. Kalau mau nabung di bank, alasannya ribet," ujarnya saat ditemui di gudang rosok di daerah Layur, Semarang, Rabu (11/4).

Jumlah uang yang ditabung pun bervariasi, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Samad mengungkapkan, ada pemulung yang memiliki tabungan hingga Rp 50 juta. Tapi dia enggan mengungkap identitas pemulung tersebut. "Yang punya sudah tua, bilangnya mau buat naik haji," ungkap Samad. Sampai saat ini, nasabah tabungan ini sekitar 150 orang.

menabung ala pemulung

Samad mengaku, uang yang ditabung tersebut tidak mendapat bunga dan tidak dipotong administrasi. "Seperti celengan, tapi uangnya dititipkan. Kebenyakan diambil pas Lebaran. Mereka enggak merasa, tiba-tiba ada uang di tabungan," paparnya.

Tak hanya menyimpankan uang, Samad juga sering mengumpulkan ratusan pemulung untuk menggelar acara. Dalam acara itu, disediakan doorprize dan pemberian penghargaan. Biasanya, acara tahunan itu digelar saat ulang tahun pernikahan Samad dan istrinya, yakni 5 Mei.

"Tahun ini, rencananya menggelar wayangan. Sekalian meresmikan gudang baru. Kalau yang di sini ini kan masih sewa. Gudang baru itu sudah milik saya sendiri," terangnya. Dia juga berencana mengumrahkan dua karyawannya.

Menurut Samad, bisnis rosok saat ini sangat ketat karena banyak juragan yang membeli mesin baru dengan teknologi canggih. Selain itu, masuknya limbah dari China juga turut memengaruhi. "Harga dari China lebih murah, pemain lokal kebingungan menentukan harga," jelasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP